Saturday, 31 October 2020

Belajar Ikhlas dalam menginisiasi sebuah Pembangunan Lingkungan

 


Menginisiasi sebuah pembangunan lingkungan itu merupakan hal yang baik, namun belum tentu ajakan baik tersebut akan serta merta diikuti orang lain. Diperlukan kesabaran, keuletan dan juga keikhlasan. Karena jika kita salah dalam menyikapi, yang ada hanya rasa kesal, dongkol dan tentunya akan merugikan diri kita sendiri.

Dalam hal melakukan amal perbuatan, apapun bentuknya, hendaknya kita bersikap ikhlas. Ikhlas sendiri merupakan pekerjaan hati yang tidak akan tampak secara zahir. Orang yang ikhlas adalah orang yang mampu melepaskan segala bentuk keinginan kecuali Allah SWT.

KH. Musthofa Bisri pernah berkata: “Abadikan segala bentuk kebaikanmu dengan melupakannya.” Hikmah yang disampaikan Gus Mus ini adalah salah satu dari bentuk sikap ikhlas dalam melakukan kebaikan. Ikhlas itu laksana kotoran yang kita buang dan kita lupakan.

Landasan agama tentang Ikhlas yaitu mengerjakan sesuatu semata-mata murni sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Selayaknya kegiatan menginisiasi pembangunan ini, ikhlas bisa diibaratkan sebagai bentuk dedikasi kita kepada lingkungan. Beraktifitas karena dasar cinta dan komitmen yang tinggi, dan bukan karena hal lain.


Saturday, 12 September 2020

Pemberdayaan Kerja Bakti dalam Pembangunan Pagar RW 06


Strategi pembangunan lingkungan bisa dilakukan dengan banyak cara, diantaranya dengan membayar tukang untuk mengerjakannya atau dengan cara kerja bakti bersama-sama. Keduanya mempunyai sisi positif-negatif. Dalam konteks pembangunan pagar RW 06 ini kami memilih cara mengkombinasikan kedua nya. Untuk pekerjaan yang membutuhkan keahlian khusus, kami membayar tukang untuk mengerjakannya. Dan untuk pekerjaan yang kemungkinan bisa dikerjakan bersama-sama, kami memilih dengan cara kerja bakti.

Kerja bakti adalah salah satu bentuk dari kehidupan bertetangga. Kepedulian seseorang dalam kerja bakti demikian terlihat jelas bisa dirasakan, misalnya ada kebersamaan, silaturahmi, berbagi, berkontribusi yang berorientasi sosial. Juga yang pasti adalah manfaat kebersihan lingkungan, selain manfaat yang diperoleh secara individual.

Manfaat sosial lainnya adalah untuk meningkatkan kewaspadaan sosial bertetangga. Silaturahmi dalam kerja bakti dapat memonitor seseorang, misalnya sedang keluar kota, berhalangan atau sakit. Dengan demikian warga dapat mengkondisikan, memberi bantuan atau pertolongan.

Di kehidupan modern yang makin individual, tidak jarang ada saja rumah tangga yang tidak mau berinteraksi. Dalam banyak hal, tetangga yang tertutup ini memiliki masalah. Melalui silaturahim hasil kerja bakti, dapat mendeteksi hal-hal yang mencurigakan, kemiskinan, tindakan kriminal, atau gangguan sosial lainnya.  

Manfaat positif kerja bakti perlu diberdayakan. Kiranya hal ini dapat diagendakan secara rutin di lingkungan RT & RW kita. Yang lebih penting adalah inisiatif warga, karena mereka paling mengenal kondisi lingkungan dan antisipasi permasalahannya. Agenda dapat disesuaikan dengan kebutuhan setempat.



12092020
RW06

Thursday, 20 August 2020

Menjenguk Anak Di Pondok



Kamis, 20 Agustus 2020, tiga hari setelah peringatan Kemerdekaan RI ke-75, saya beserta keluarga meluncur ke Ponpes Darul Iman Al Madina Tebuireng Jombang. Tujuannya adalah menjenguk putra pertama yang baru nyantri.

Hari ini akan menjadi hari yang mendebarkan sekaligus membahagiakan. Sebabnya, sudah 40 hari, orang tua santri baru dilarang bertemu anaknya. Terasa lama menunggu tibanya hari ini untuk melihat keadaan putra saya yang berjuang seorang diri, menapak masa depannya. Inikah yang disebut rindu dan kasih sayang?

Sejak pagi, halaman pesantren telah dipadati keluarga orang tua santri. Saya melihat beberapa santri baru tak kuasa meneteskan air mata. Entah apa maknanya? Sedih, gembira rindu, tidak betah, luapan derita, atau tetesan bahagia? Yang pasti, ekspresi itu muncul dari lubuk hati dan bukti kasih sayang antara anak dan orang tua yang tidak bisa aku tumpahkan melalui pena dan kata-kata.

Sebelumnya, isteri saya telah belanja dan menyiapkan snack, kue, dan makanan favorit putraku. Amunisi baru siap kirim untuk memperkokoh tekad sang buah hati menjadi santri. Selain itu, kami juga telah siap lahir batin untuk menjadi pendengar setia tentang pengalaman baru putraku berada di "penjara suci". Tak lupa surat keterangan sehat juga kami persiapkan untuk memasuki area pondok, karena di masa pandemi ini segala protokol kesehatan harus kita patuhi guna keselamatan bersama.

Saya menduga, putraku bakal berkeluh kesah dan bercerita panjang lebar tentang beratnya menjalani hidup di pesantren, seperti berebut jemuran, lelahnya mencuci baju, antri toilet, konsumsi yang tidak sesuai selera, teman yang nakal, sulitnya pelajaran baru, dan berbagai macam hal.

Ternyata, dugaan saya keliru. Putraku lebih banyak diam. Dari tatap matanya yang berkaca-kaca, tampak ketabahan dan kekuatan yang tidak aku kira. Ternyata dia sanggup menanggung semua derita. Ia jauh lebih kuat daripada yang aku perkirakan. Ia sanggup memendam semua hal yang kurang menyenangkan dan berusaha menampilkan diri bahwa semua baik-baik saja.

Dari pertemuan pertama ini, saya baru tahu, bahwa pesantren mengajarkan kita bertahan dalam kondisi dan situasi apapun, baik senang maupun tidak. Pengalaman ini jelas berharga bagi seorang santri dalam membentuk karakter sebagai seorang pejuang, bukan pecundang.

Tak terasa waktu menunjukkan pukul 09.00 WIB, satu jam sudah terlewati. Tiba waktunya untuk kembali berpisah. Aku berpesan :

"Putraku, kamu baru saja melangkah. Teruslah, jangan berhenti, apalagi balik kembali. Di sepanjang jalan, akan kamu temukan bunga dan juga duri. Inilah kehidupan. Tapi, jangan pernah berhenti. Jalan masih panjang, ada yang lurus, ada pula yang berliku. Di masa depan, kamu akan mengenang perjalanan penuh nostalgia ini dengan penuh kepuasan dan kebahagiaan. Percayalah, karena aku telah mengalaminya".



Monday, 10 August 2020

Pesona Kora Evar

 


Terik matahari menyengat saat berkendara di bibir Laut Arafuru seakan memaksa saya harus berhenti sejenak. Awal Desember 2018 lalu di Pantai Batu Kora Desa Wangel, Kecamatan Pulau-pulau Aru, Kabupaten Kepulauan Aru, Maluku. Tampak beberapa orang pengunjung menikmati deburan ombak di sekitar tiga pecahan batu besar di pantai tersebut.


Seorang pengunjung mengambil gambar dari pesisir pantai yang berada di sisi timur gugus batu itu dengan kameranya. Hasil gambar berupa sinar matahari yang menembus deretan batu-batu sungguh menarik.

”Gambarnya keren. Mengintip mentari dari balik batu, he-he-he,” ujar pengunjung sambil tertawa seraya menunjukkan hasil potretannya. Tiga pecahan batu besar yang kelilingnya lebih dari 7 meter, dengan tinggi sekitar 5 meter dari dasar laut berbanjar tegak ke tengah laut itu memang merupakan daya tarik utama di pantai tersebut. Di pantai itu ada juga beberapa batu lain berukuran lebih kecil berdiri di sana membentuk sebuah gugus batu dengan jarak lebih kurang 50 meter hingga 70 meter dari garis pantai.

Pada salah satu bongkahan batu terbesar, di bagian atas terdapat lapisan tanah yang ditumbuhi pohon kelapa dan pinus. Pinus merindang hijau dan kelapa tegak menjulang, subur seperti halnya tumbuh di habitat biasanya. Ketika laut surut hingga belasan meter dari bibir pantai, pengunjung dengan mudah mendekati batu-batu itu.

Deretan batu yang terbilang unik tampak sempurna karena dibingkai pesisir pantai berpasir putih sejauh hampir 2 kilometer. Di sana berdiri ratusan pohon nyiur sehingga membuat suasana terasa asri kendati matahari siang menyengat.

Sajian pesonanya memang menggairahkan penikmat wisata sehingga menjadi pilihan utama warga Dobo, ibu kota Kabupaten Kepulauan Aru, dan sekitarnya.

Pemahaman Tentang Empan Papan


Ada sesuatu yang ingin saya tulis terkait filosofi Jawa yang sudah mulai jarang terdengar dalam kehidupan kita sehari-hari yaitu pemahaman tentang "Empan Papan" dimana artinya suatu sikap atau laku perbuatan orang yang bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya dan pada saat dan kondisi yang tepat.

Sebagai contoh yang bisa saya sebutkan diantaranya :

Bahwa kita sepenuhnya berhak atas sebuah kegembiraan, itu benar. Kemudian, apakah kita boleh melompat-lompat dan berteriak dengan keras ketika ada orang sakit di situ?

Bahwa ketika lapar kita bisa makan dengan leluasa, apakah berarti kita boleh makan di area bandara dengan menggelar tikar?

Bahwa ketika kita memiliki sepatu yang sangat mahal, apakah kita bisa memakainya dengan cara mengalungkan di leher?

Bahwa ketika melihat postingan di sosmed yang rasa-rasanya menampar kita, apa ya benar postingan itu sangat khusus ditujukan kepada kita saja?

Hal ini diperlukan untuk lebih mudah melihat fenomena apapun dalam kehidupan. Semua ada takarannya. Semua ada tempatnya.

Salah satu takaran itu adalah produk budaya, termasuk bahasa lokal, situasi kondisi sosial dan budaya masyarakat.

Semoga bermanfaat.....










 

 

Monday, 13 July 2020

Pesan Kiai Buat Wali Santri


Tulisan ini saya dedikasikan buat para wali santri di seluruh nusantara yang saat ini sedang mengalami masa transisi berpisah dengan anaknya untuk menuntut ilmu di pondok pesantren.

Hari ini terhitung hari kedua sejak kemarin kami menitipkan anak kami untuk diasuh oleh para pendidik dan kiai di Pesantren. Masih terngiang betul wejangan kiai yang menerima wali santri di aula pesantren.

Perkara menyekolahkan anak ke pesantren bukan hanya soal mengantarkan anak ke pesantren lalu membiayai pendidikannya. Namun ada hal-hal penting yang orang tua harus pahami tentang kehidupan di pesantren. Seperti kita ketahui, pada umumnya pesantren memiliki sistem dan disiplin yang ketat yang harus di taati oleh santrinya. Pesantren mengatur berbagai peraturan dalam setiap kegiatan santri di pesantren, mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali.

Nah, dalam hal penerapan disiplin, terkadang ada sebagian wali santri yang kurang memahami, sehingga di dalam perjalanan pendidikan anaknya di pesantren menimbulkan keselahpahaman terhadap pendidikan pesantren. Maka alangkah baiknya, sebelum menyekolahkan anak ke pesantren para orang tua harus terlebih dahulu teredukasi dengan pendidikan di pesantren. Para orang tua harus terlebih dahulu mempelajari kehidupan di pesantren, mulai dari disiplinnya, sistem, kegiatan dan sebagainya.

Pemahaman wali santri yang matang terhadap kehidupan pesantren akan memudahkan proses pendidikan anak selama di pesantren. Para orang tua tidak akan mengalami lagi yang namanya “culture shock” dengan kehidupan pesantren. Mental para orang tua wali harus disiapkan sebelum memutuskan menyekolahkan anak di pesantren, agar nantinya tidak menimbulkan protes kecil-kecilan terhadap sistem pendidikan pesantren.

Karena dalam keseharian pengurus pesantren, para dewan guru tidak hanya berurusan dengan santri, tapi juga akan berhadapan dengan wali santri. Para pendidik akan sedikit kewalahan jika ada wali santri yang kurang memahami kehidupan pesantren, karena pasti akan ada satu dua hal yang berbenturan dengan pandangan wali santri, terutama dalam hal penegakan disiplin terhadap santri.

Memahami pola pendidikan pesantren adalah hal yang sangat disarankan kepada para orang tua sebelum memutuskan menyekolahkan anak di pesantren. Menguatkan mental dan mengikhlaskan anak untuk sekolah di pesantren adalah salah satu kunci suksesnya anak kita belajar di pesantren. Membina komunikasi yang baik dengan dewan guru dan memantau perkembangan anak secara kontinuitas.

Salah satu pesan kiai buat wali santri di Pondok Pesantren adalah :

“Kalo mau punya anak bermental kuat, orang tua-nya harus lebih kuat, punya anak itu jangan hanya sekedar sholeh tapi juga bermanfaat untuk umat, orang tua harus berjuang lebih..ikhlas.. ikhlas.. ikhlas..

Anak-anak mu di pondok pesantren gak akan mati karena kelaparan, gak akan bodoh karena gak ikut les ini dan itu, gak akan terbelakang karena gak pegang “gadget”.

Insya Allah Anakmu akan dijaga langsung oleh Allah karena sebagaimana janji Allah yang akan menjaga Alqur’an..yakin.. yakin..harus yakin..

Lebih baik kamu menangis karena berpisah sementara dengan anakmu, karena menuntut ilmu agama dari pada kamu nanti kalau sudah tua menangis karena anak-anak kamu lalai terhadap urusan akhirat….kebanyakan memikirkan urusan dunia, berebut harta, pamer wajah dan lupa surga".

Semoga kita semua diberikan kekuatan oleh Allah serta diberikan rejeki yang berkah untuk bisa membiayai putra dan putri kita...Aamiin....


Sunday, 12 July 2020

Mengantar Anak ke Pondok Pesantren


Hari ini Minggu tanggal 12 Juli 2020 saya berada di Pondok Pesantren Al Madina Diwek Jombang untuk mengantarkan anak menuntut ilmu di jenjang yang lebih tinggi.

Orang tua mana yang kuat melepas anaknya hidup berpisah. Apalagi di usia dini. Tapi memilih masa depan anak agar lebih baik secara ilmu pengetahuan dan agama, tentu harus dilakukan manakala orang tua secara sadar paham arti pendidikan.

Pilihan melepas anak menuntut ilmu di pasantren adalah salah satunya. Sistim di pasantren sudah dibuat bagaimana seorang anak tamatan Sekolah Dasar diinapkan dan diajar. Membuat bagaimana mereka betah dan mengisi waktu dengan ilmu dan keterampilan demi hari esok. Bukan untuk hari ini.

Jika diikutkan rasa kasih sayang seorang Papa dan Mama, anak masih kecil, belum mandiri, belum bisa dipisahkan dari orang tua. Bagaimana makan dan tidurnya dan sejumlah persoalan lain, membuat orang tua seperti saya tak akan melepaskan anaknya merantau dan berpisah.

Namun demikian orang tua seperti saya yang pemahaman ilmu dan agama masih apa adanya ketika ada pilihan yang lebih baik dan mampu dilakukan, seperti memasukkan anak-anak ke pasantren, tentu alasan ketidakmampuan orang tua mengajarkan anak akan nilai-nilai agama secara langsung, bisa diterima. Dari pada tidak ada pilihan, tidak mau tahu, tidak peduli dan hanya berpikir keduniaan. Menanam padi pasti tumbuh rumput. Tapi menanam rumput saja tak akan tumbuh padi.

Apalagi jika ditambahkan alasan lain, sibuk mencari uang, nafkah, ngak sempat, capek dan lain-lain. Ini menurut pendapat awam saya. Untuk itulah saya memilih berpisah dengan anak saya. Menurut saya ini jalan yang baik, menapikan perasaan saya, mamanya dan juga saudaranya. Setelah terlebih dahulu saya memberinya penjelasan dan keikhlasan. Selebihnya, saya serahkan pada Sang Khaliq. Sebagai pemilik Ilmu dan masa depan serta Ruh. Saya berharap penuh padaNya.