Monday, 19 July 2021

Diperlukan kematangan dalam berfikir dan bertindak

 


Semua orang pasti menua, tapi nggak semua orang menjadi dewasa pada saat bertambahnya usia.

Kedewasaan tidak dilihat dari segi usia, karena yang menjadikan tolak ukur sebuah kedewasaan adalah kemampuan untuk memiliki pola pikir yang matang.

Umur tidak menjadi patokan untuk mengetahui kedewasaan seseorang. Bisa jadi kamu akan bertemu dengan orang yang lebih muda dari kamu, namun pemikirannya lebih dewasa dibandingkan orang yang berusia 40 atau 50 tahun.

Kedewasaan tidak datang secara instan, tapi juga tidak bisa sekadar ditunggu begitu saja. Kamu harus melatih pola pikir dan sikap dewasa lewat berbagai proses kehidupan. Kuncinya adalah kemampuan dan keinginan untuk terus berproses memperbaiki diri menjadi lebih baik, dan open minded serta berkeinginan untuk belajar dalam setiap prosesnya.

Wednesday, 30 June 2021

Kekuatan Sebuah Tulisan dan Ucapan

 


Ada ungkapan bahwa satu peluru bisa menembus satu kepala, tetapi satu tulisan bisa menembus ribuan bahkan jutaan kepala. Berapa banyak orang yang akhirnya patah semangat setelah membaca beberapa tulisan, atau sebaliknya berapa banyak orang yang akhirnya memiliki motivasi besar setelah mengikuti seminar ?

Hal ini tentu menjadi sebuah bukti bahwa tulisan dan ucapan memiliki kekuatan yang besar. Kemudian, dalam hal negatifnya juga banyak. Misalkan berapa banyak yang depresi karena membaca komentar negatif atas dirinya, atau berapa banyak yang menjadi minder karena ucapan seseorang dan seterusnya.

Sederhananya, berapa banyak orang yang akhirnya malas bertemu atau mengikuti sebuah acara karena selalu disindir, dianggap tidak mampu, tidak ada gunanya, dan seterusnya. Memang lidah tidak bertulang, tetapi sangat bisa membuat banyak orang tersakiti. 

Jadi sebuah renungan untuk kita semua, sudah berapa tulisan baik yang kita buat? sudah berapa ucapan yang membuat orang menjadi lebih baik yang kita ucapkan?

Jika masih sedikit maka, mari kita sama-sama merenung dan memikirkan benar-benar sebelum menulis atau mengucapkan sesuatu. 

Monday, 7 June 2021

Mencicipi Rujak Kecut Banyuwangi

 


Ada yang bilang bahwa Banyuwangi adalah kota seribu rujak, karena disini rujak begitu banyak sekali macamnya seperti Rujak Wuni, Rujak Locok, Rujak Lethok, Rujak Kecut, Rujak Pecel, Rujak Cemplung, Rujak Singgul, Rujak Soto, Rujak Bakso dan rujak-rujak lainnya. 

Nah hari ini saya berkesempatan mencicipi Rujak Kecut khas Banyuwangi. Mendengar nama rujak kecut, siapapun pasti akan membayangkan dominan rasa asam dalam kuliner tersebut. Namun jangan salah, bila mencoba kuliner yang satu ini, aroma harum, segar, disertai rasa gurih, pedas, manis dan asam akan membuat ketagihan.

Menurut penjual rujak kecut di Desa Wisata Osing, masyarakat Osing bila sakit kepala obatnya cukup mengkonsumsi rujak kecut. "Wong dadi obat. Lak ngelu makan rujak kecut marek." kata nya.



Friday, 4 June 2021

Tulisan saat di Bumi Blambangan

 


Jarum jam di tangan menunjukkan angka sembilan pagi. Hari itu saya mendapatkan tugas untuk berkunjung ke beberapa lokasi di ujung timur pulau Jawa. Tanah di desa Krajan, Sukojati, Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi, masih basah karena diguyur hujan lokal sejak pagi. 

Laju mobil yang saya kendarai berjalan lambat karena harus menyusuri jalan sempit perkampungan. Dari kaca mobil, saya bisa memandang hamparan sawah di kanan dan kiri jalan.

Titik yang saya kunjungi hampir merata di seluruh Kabupaten Banyuwangi, mulai sisi utara, selatan, timur dan barat. Start saya mulai dari Rogojampi, sekitar 20 kilometer dari Kota Banyuwangi. Selanjutnya saya lanjutkan ke Cluring, Singojuruh, Genteng, Kalipuro, Muncar dan beberapa lokasi lainnya.

Dari beberapa lokasi tadi, yang paling berkesan saat berada di Muncar. Konon menurut salah satu warga yang saya ajak ngobrol ketika makan siang, Muncar adalah pusat kerajaan Blambangan yang dibangun VOC setelah kekalahan rakyat Blambangan dalam perang Puputan Bayu. Bisa disebut, di Muncar inilah periode Kerajaan Blambangan II yang bercorak Islam dimulai, dan merupakan ibu kota kerajaan terakhir sebelum akhirnya pindah ke Banyuwangi.

Di Muncar saya sempat mampir di Situs Umpak Songo, Desa Tembokrejo. Situs ini dipercaya sebagai bekas reruntuhan bagian kerajaan. Di dalam areal seluas setengah hektare itu terdapat 49 batu besar dengan sembilan batu di antaranya berlubang di tengah. Batu-batu yang tengahnya berlubang itu berfungsi sebagai umpak atau penyangga. Karena itulah, situs ini dinamakan Umpak Songo yang artinya sembilan penyangga.

VOC memindahkan ibu kota kerajaan ke wilayah ini karena letaknya yang berdekatan dengan Pelabuhan Muncar. VOC berkepentingan mengawasi Selat Bali dari kerajaan-kerajaan di Bali yang berusaha merebut Blambangan. Apalagi, kerajaan-kerajaan di Bali kerap memberi bantuan kepada Blambangan saat peperangan melawan VOC maupun kerajaan-kerajaan Islam sehingga Blambangan sulit terkalahkan.

Langkah lain, VOC akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Mataram Islam untuk mengislamkan Blambangan sebagai upaya untuk memutus hubungan Blambangan dengan Bali. Islamisasi itu ditempuh dengan menempatkan orang-orang Mataram Islam untuk menjadi raja di Blambangan dengan harapan proses Islamisasi berlangsung cepat.

Jarum jam mulai menunjukkan pukul lima sore, sudah saat nya kembali ke penginapan. Saya merasa bersyukur dimana bisa mendapatkan sebuah pengetahuan tentang sejarah kerajaan Blambangan yang mana riwayatnya masih tetap lestari di masyarakat.

Wednesday, 19 May 2021

Coretan tentang Gerbang Impian

 


Pernahkah kawan-kawan memiliki banyak keinginan, harapan, dan cita-cita?

Pernahkah kawan-kawan menuliskan hal-hal yang di impikan tercapai pada titik tertentu dalam hidup?

Pernahkah kawan-kawan mendapati bahwa sebagian impian tidak akan pernah menjadi kenyataan dan sebagian harapan mustahil untuk diwujudkan?

Saya pernah.

Saya memiliki banyak keinginan, banyak cita-cita. Dulu, saya rajin menuliskan setiap impian dan keinginan. Namun, suatu hari, saya mendapati bahwa apa yang saya impikan tidak bisa dicapai pada tenggat waktu yang sudah saya tentukan. 

Perasaan marah dan kecewa berkecamuk di dalam diri. Saya bertanya kepada Tuhan, mengapa Dia mengizinkan saya gagal mencapai apa yang saya inginkan. Saya tahu tak seharusnya saya mempertanyakan nya kepada Tuhan, tetapi saat itu kekecewaan begitu menguasai. Kondisi saya bisa dibilang sangat buruk.

Hingga pada suatu waktu, saya mendengar lagu yang berjudul Trust His Heart, yang berbunyi :

God is too wise, to be mistaken

God is too good, to be unkind

So when you don’t understand, when you don’t see His plan

When you can’t trace His hand

Trust His Heart

Dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti:

Allah begitu bijak, tak mungkin salah

Allah begitu baik, tak mungkin jahat

Saat kau tak mengerti, (saat kau) tak paham rencana-Nya,

(saat kau) tak melihat tangan-Nya,

Percaya hati-Nya.

Syair itu membuat saya merenungkan atas apa yang saya alami. Benar bahwa banyak impian saya  yang tidak menjadi kenyataan, namun saya telah melupakan sejumlah fakta yang penting. Saya lupa bahwa ada sesuatu yang selalu bekerja di balik layar. Saya lupa bahwa hidup yang saya jalani sekarang ini bukanlah milik saya sepenuhnya. Saya lupa bahwa meskipun saya memiliki pensil dan kertas, Allah memiliki alat tulis yang lengkap!

Kawan, tidaklah salah jika kita punya banyak impian dan keinginan. Tetapi, janganlah kita pernah lupa bahwa kita memiliki Allah yang berdaulat, yang memegang kendali atas segala sesuatu. Kita boleh saja memegang pensil dan menulis semua impian dan keinginan kita, tetapi ingatlah bahwa Allah memegang penghapusnya. 

Izinkan Dia menghapus keinginan-keinginan kita yang tidak benar dan menuliskan rencana-Nya yang lebih baik dalam hidup kita. Dan, perhatikanlah bagaimana Dia bekerja di balik layar hidup kita masing-masing.

Ketika kawan-kawan merasa keadaan di sekeliling tidak berjalan sesuai dengan keinginan, jangan takut! Allah, Sang Pencipta sedang dan akan terus bekerja menggenapi rencana-Nya di dalam dan melalui dirimu.

Tuesday, 11 May 2021

Jangan Jadi Orang Yang Bermental Kepiting

 

Di Desa Mecajah, Tanjungbumi, Bangkalan, Madura, banyak sekali masyarakat yang bekerja menangkap kepiting di laut.

Ketika mereka mencari kepiting, pasti hasil yang didapatnya akan dimasukan ke dalam bak atau baskom.

Saya pernah bertanya kepada salah seorang penangkap kepiting itu, apakah tidak khawatir kalau kepitingnya akan keluar dari baskom karena tidak ditutup ? Beliau menjawab , ya sebenarnya khawatir juga, tapi kami tahu sifat kepiting. 

Wah menarik ini, ungkap saya. Memangnya seperti apa sifat kepiting itu pak ?

Beliau menjawab, "ketika ada temannya yang berusaha keluar dari baskom, maka teman-temannya yang lain akan berusaha menariknya kembali, begitulah seterusnya, hingga dari sekumpulan kepiting yang ditangkap itu tidak ada yang berhasil keluar."

Dari situ sebenarnya bisa ditarik sebuah pelajaran hidup, bahwa diantara kita mungkin sering seperti segerombolan kepiting itu. Ketika ada salah seorang teman kita yang mencoba untuk berhasil, kita sering dengki dengannya. Seolah-olah kita berharap dia tidak akan pernah bisa berhasil di dalam hidupnya.

Rasa dengki dalam diri ini haruslah kita buang, karena tidak ada manfaatnya bagi diri kita, itu hanya akan membuat diri kita tambah sakit melihat kenyataan teman kita jauh lebih baik dibanding kita.

Percayalah semua orang memiliki kesempatan dan peluangnya masing-masing, tentunya itu sesuai dengan proses hidup yang dialami nya.


Sunday, 9 May 2021

Pentingnya Menanamkan Nilai Kejujuran

 


Sebagai orang tua, sudah tentu kita seringkali menanamkan nilai-nilai kebaikan kepada anak kita, salah satunya adalah kejujuran. Karena jika tidak jujur kepada orang lain, suatu saat kita akan diperlakukan serupa, bisa oleh siapa saja. Dan, sering dalam kasus yang tidak pernah di duga.

Ada sebuah kisah yang inspiratif yang bisa kita jadikan pelajaran. Di sebuah pulau kecil terdapat nelayan yang hidup bertetangga dengan seorang pedagang beras. Setiap hari nelayan tersebut membeli satu kilo beras di pedagang beras.

Sebaliknya pedagang beras membeli ikan di nelayan, keduanya saling melanggani.

Suatu hari, tukang beras menimbang apa betul ikan yang dibelinya persis satu kilo.

Ternyata, TIDAK.

Dengan marah, dia mengadukannya ke perangkat desa.

Si nelayan dipanggil, perangkat desa bertanya apa dia menggunakan ukuran tertentu dalam menjual ikan.

Sang nelayan menjawab : “Maaf pak perangkat, saya primitif, saya tidak memiliki alat. Tapi saya selalu memakai skala untuk menimbang berat.”

Lalu perangkat desa bertanya kembali : “Bagaimana Anda yakin ikan yang anda jual memang betul satu kilo?”

Nelayan tersebut menjelaskan: “Saya membeli sekilo beras darinya setiap hari. Dengan sebatang kayu, saya meletakkan beras di satu sisi, lalu menambahkan ikan di sisi lain sampai seimbang. Kalau ada seseorang yang salah menimbang, dia adalah tukang beras.”