Saturday, 25 October 2014

Berkunjung ke Markas Arema di Stadion Kanjuruhan Malang



Bagi penggemar sepakbola di Indonesia pasti pernah mendengar atau melihat tulisan Arema yaitu merupakan klub sepakbola yang berasal dari Kota Malang. Saat didirikan bernama Arema Football Club/Persatuan Sepak Bola Arema (PS Arema) dan kemudian namanya menjadi Arema Malang. Kali ini saya tidak akan mengulas banyak tentang Arema melainkan kandang atau markas klub sepak bola Singo Edan ini. Arema bermarkas di Stadion Kanjuruhan Malang. Stadion ini berada di Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, Propinsi Jawa Timur, Indonesia. Letaknya sekitar 26 kilometer arah selatan dari pusat Kota Malang. Stadion Kanjuruhan dibangun sejak tahun 1997 dengan biaya lebih dari 35 miliar (menurut info yang saya baca). Tanggal 9 Juni 2004, stadion ini diresmikan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri. Stadion Kanjuruhan memiliki luas 3,5 hektar dengan kapasitas tempat duduk 40.000 penonton. Memiliki lampu stadion dengan daya penerangan iluminansi rata-rata 1,282,500 Lux , setiap tiang terpasang 20 buah bola lampu. 
Stadion Kanjuruhan terdiri dari fasilitas Tribun Utama dengan luas lantai dalam 2.736 M2 dilengkapi ruangan hall, media center, loket karcis, ruang penjaga, mushola, ruang pengelola, ruang wasit, ruang fitness, ruang ganti pemain, ruang pemanasan, ruang istirahat, ruang mandi bersama, ruang kesehatan, gudang alat olahraga, dan toilet pria dan wanita.
Sebagai tambahan informasi bahwa ternyata Asal muasal nama Arema diambil dari legenda Malang bernama Patih Kebo Arema dimasa Kerajaaan Singosari yang diperintah Raja Kertanegara. Semasa menjadi patih Singosari, Patih Kebo Arema memiliki prestasi yang gemilang. Walaupun namanya kurang populer dalam buku-buku sejarah nusantara dan kalah tenar dibandingkan Raja Kertanegara yang disebut-sebut menjadi raja tersukses di Singosari, namun bagi warga Malang, Patih Kebo Arema menjadi sosok yang sudah melegenda. dan namanya sampai sekarang diabadikan menjadi nama klub sepak bola di Malang.
Demikian sedikit informasi mengenai Arema dan Stadion Kanjuruhan Malang.
 

Sunday, 19 October 2014

Pohon Kelapa Penyelamat Panji Siliwangi di Ciamis

Setelah menyusuri jalan berkelok-kelok yang cukup membuat perut sedikit mual, akhirnya sampailah saya di Dusun Cirikip Ds. Cinyasag Kec. Panawangan Kab. Ciamis. Perjalanan saya kesini bukan tanpa maksud, melainkan untuk mengetahui lebih dekat tentang kisah pohon kelapa yang digunakan untuk menyelamatkan Panji Siliwangi oleh almarhum Sahnawi dari ancaman Gerombolan DI/TII dan Pasukan Belanda pada agresi militer 1948. 
Atas jasanya tersebut, sebagai ungkapan penghargaan atas terselamatkannya sang panji dari ancaman musuh, pemerintah mengangkat Sahnawi sebagai anggota veteran dan pernah diberi hadiah sebidang sawah oleh Pangdam Siliwangi. Pada tahun 1975 Pangdam Siliwangi Mayjen Himawan Soetanto membangun sebuah Monumen Penyelamat Panji Siliwangi di depan halaman rumah Sahnawi. Sementara pohon kelapa itu telah dinobatkan sebagai kelapa penyelamat sang panji hingga sekarang.
Pada pertengahan tahun 2003 yang lalu, tanpa diduga pohon kelapa bersejarah itu tumbang tertimpa angin. Mungkin karena terkikis usianya yang sudah tua, sang pohon patah batangnya. Namun tumbangnya kelapa bersejarah itu tidak sampai akarnya sehingga sisa batangan kelapa yang sudah bersalin rupa menjadi sebuah tonggak setinggi dua meteran itu masih bisa dijadikan bukti sejarah bagi generasi mendatang. 
Di depan tonggak kelapa telah dibangun sebuah tugu terbuat dari tembok setinggi tiga meteran. Di depan tugu termaktub sebuah tulisan dengan kalimat bertuliskan, "Dipohon kelapa ini Panji Siliwangi disembunyikan untuk diselamatkan dari Belanda dan Gerombolan DI/TII pada tahun 1949 oleh bapak Sahnawi ( Alm )".
Menurut sejarah yang sempat saya baca bahwa Pasukan Siliwangi pada tahun 1948 melaksanakan hijrah ke Jawa Tengah, sebagai akibat Perjanjian Renville (17/1/1948). Di wilayah yang  jauh dari tanah asalnya, mereka kemudian terlibat dalam aksi penumpasan pemberontakan PKI Madiun, bersama pasukan Diponegoro dan Brawijaya. Belum lepas dari rangkaian perjuangan yang melelahkan, mereka diperintahakan oleh Panglima Besar Sudirman, melalui 'Perintah Siasat Nomor 1' (9/11/1948), untuk kembali ke Jawa Barat. Pasukan Siliwangi kemudian menempuh perjalanan darat penuh risiko, dengan berjalan kaki selama 40 hari, hingga masuk wilayah Rancah. Pada 2 Januari 1949, pengamanan dan pengawalan Panji Siliwangi –saat itu disebut “Vaandel Siliwangi”- diserahkan oleh Kopral Somantri, salah saorang anggota rombongan Staf Divisi Siliwangi, kepada Letnan Satu Mung Parahadimulyo, Komandan Kompi IV Batalyon Nasuhi, Brigade Samsu, Divisi Siliwangi. Panji tersebut sempat terancam karena serangan pesawat Belanda di wilayah tenggara Gunung Syawal (24/1/1949), maupun serangan di Antralina (27/1/1949). Panji sempat dipegang oleh gerombolan DI/TII yang menawan tentara Siliwangi, dan bahkan kemudian dilemparkan ke tanah. Letnan Satu Mung Parahadimulyo memegang peranan penting dalam kisah 'penitipan' Panji Siliwangi kepada Lurah Sunahwi. Ia mengenal baik lurah tersebut, seorang penyadap nira yang sangat mendukung perjuangan. Lurah Sunahwi sendiri sangat menyadari beban dan risiko yang dihadapinya dalam menerima titipan Panji Siliwangi. Jika panji tersebut hilang atau direbut musuh, maka ia sendiri yang harus menjadi gantinya. 
Beruntung, wilayah Desa Cinyasag termasuk bersih dari pengaruh politik luar, dan para pemudanya bersatu mendukung perjuangan RI. Padahal, waktu itu DI/TII sedang meluaskan pengaruh di wilayah Ciamis utara, dan beredar pula kabar bahwa Belanda menyebar mata-mata ke wilayah Cinyasag. Dalam sebuah aksi pembersihan, Belanda sempat pula menawan Kuwu (kepala desa) Cinyasag, M. Darajat, selama berhari-hari. Konon, mulanya Lurah Sunahwi memasukkan ransel yang berisi Panji Siliwangi ke dalam besek, dan selalu membawanya ke mana-mana. 
Namun ia merasa tidak aman, apalagi sempat terjadi penyisiran oleh pasukan baret hijau Belanda yang menewaskan dua orang pemuda Cirikip. Ia mendapat bantuan pengamanan dari Suharya, pimpinan pemuda Cinyasag dari kampung Kaliwon. Sumber lain menyatakan, Sunahwi dan Panji Siliwangi juga dikawal oleh Suhanta, adik Sunahwi sendiri, yang merupakan tokoh pemuda Cirikip saat itu. Sunahwi kemudian membuka ransel titipan dan saat itulah ia mengetahui wujud asli Panji Siliwangi. Ia lalu menyimpannya di dalam sebuah bumbung bambu (lodong) yang biasa digunakan untuk menyadap nira, dan menempatkannya di atas pohon kelapa setinggi lebih kurang tujuh meter. Barulah ia merasa tenang, dan cukup dengan melihat bumbung tersebut dari jauh, ia tahu bahwa panji dalam keadaan aman. 
Hal tersebut berlangsung sekitar tiga bulan lamanya, hingga suatu hari bumbung bambu ditemukan berada di kolam yang berada di bawah pohon kelapa. Rupanya pucuk tempat menyimpan bumbung tersebut sudah berubah menjadi pelepah dan bumbungnya jatuh ke bawah. Panji Siliwangi akhirnya ‘dijemput’ kembali oleh seorang utusan bernama Letnan Kosasih dari pasukan Siliwangi. Panji tersebut kemudian disampaikan kepada Panglima Siliwangi, dan kini menjadi salah satu bagian dari Museum TNI. Sunahwi mendapat penghargaan dari negara. Lokasi tempat tinggalnya, atas prakarsa Kodam Siliwangi, sejak tahun 1975 dijadikan monumen sejarah. Kini, setiap tahun lokasi tersebut diramaikan oleh acara napak tilas perjuangan pasukan Siliwangi.
Berikut adalah beberapa dokumentasi yang sempat saya abadikan ketika disana : 
 

Wednesday, 15 October 2014

Patung Gubernur Suryo di Taman Apsari Surabaya



Kalau anda orang Surabaya pasti tidak asing dengan monumen yang berada tepat di belakang saya. Ya.......Monumen patung Gubernur Suryo namanya. Monumen tersebut dibangun dengan tujuan sebagai penghormatan yang ditujukan untuk Gubernur pertama Jawa Timur yang telah terbunuh selama pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948. 
Dari beberapa sumber yang saya baca mengenai kisah Gubernur Suryo sebagai Gubernur Jawa Timur cukup unik. Hanya berbekal surat kawat, dia memimpin Jawa Timur di masa revolusi 1945. Tidak pernah ada catatan dimanakah Suryo dilantik dan oleh siapa, termasuk surat pelantikannya. Namun birokat yang satu ini begitu pemberani. Dia dianggap sebagai pemicu perang 10 November 1945. Kisahnya, pada tanggal 09 November 1945 Inggris mengultimatum agar seluruh senjata rakyat diserahkan atau Surabaya dibumihanguskan esok harinya. Suryo “memegang bola” saat itu. Pada tanggal 09 Nopember 1945 pukul 23.00 WIB ia berpidato di RRI dan justru menyatakan menolak ultimatum tersebut. Pidato inilah yang menyulut perang 10 November yang legendaris itu. 
Adapun petikan pidato Gubernur Suryo adalah sebagai berikut:
” Berulang-ulang telah kita kemukakan bahwa sikap kita ialah : Lebih baik hancur daripada dijajah kembali. Juga sekarang dalam menghadapi ultimatum pihak Inggris kita akan memegang teguh sikap ini. Kita tetap menolak ultimatum itu. “
Lokasi monumen ini berada di Kompleks Taman Apsari di Jalan Gubernur Suryo di depan Gedung Negara Grahadi Surabaya.


Tuesday, 14 October 2014

Penasaran dengan istilah "Ingsun Titip Tajug Lan Fakir Miskin" di Kota Cirebon



Saking seringnya saya melewati Terminal Harjamukti Kota Cirebon membuat saya semakin penasaran dengan baliho besar yang terpampang di pintu masuk terminal tersebut. Sebuah baliho besar yang bertuliskan “Ingsun titip Tajug lan Fakir Miskin”. Konon kalimat itu merupakan sebuah wasiat dari Sunan Gunung Jati kepada masyarakat Cirebon. Dari beberapa penelusuran saya mengenai arti kalimat tersebut kurang lebih adalah “saya titip masjid dan fakir miskin”. 

Mari kita telaah bersama mengenai arti kata tersebut :

Yang pertama adalah ingsun titip tajug (saya menitipkan musholla/masjid). Secara harfiah, sekilas memang dapat diartikan musholla sebagai tempat beribadah umat islam secara kolektif/bersama. Namun jika menelisik lagi ke sisi historis, makna tajug (musholla) bagi masyarakat Cirebon di era jaman Sunan Gunung Jati hidup mempunyai dualisme fungsi, yaitu :
1. Fungsi keyakinan/agama
2. Fungsi Sosial kemasyarakatan
Kenapa fungsi sosial kemasyarakatan? Karena ketika itu masjid/mushola dijadikan symbol interaksi social segala lapisan eleman masyarakat dari berbagai latarbelakang. Ada sebuah makna kesetaraan, persamaan hak dan derajat manusia dan penghargaan kehidupan yang bertenggang rasa ketika sebuah aktifitas social masyarakat dimulai di masjid. Terlebih lagi dengan latar belakang masyarakat Cirebon yang multi etnik, bahasa dan dialek.


Kedua, ingsun titip fakir miskin. Fakir miskin adalah simbol kesinergian hubungan antara sesama manusia. Dimana fakir miskin atau kemiskinan adalah produk dari sebuah kegagalan pengelolaan Negara/komunal besar. Mengutip kata dari Mahatma Gandhi : Kemiskinan adalah kekerasan yang terkeji, kemiskinan seakan menjadi resiko orang seorang dalam setiap Negara gagal, padahal jika ditelaah dapat dipahami mengapa ada banyak kemiskinan di negeri ini? Mengapa begitu banyak fakir miskin di Indonesia, kenapa mereka masih terjerat dalam kegetiran hidup yang mengharuskan mereka berfikir keras untuk bagaimana memikirkan biaya sekolah anaknya yang mahal, membeli belanja makanan di pasar yang tak pernah kompromistis, betapa setiap warga Negara dituntut untuk bagaimana memikirkan biaya perobatan yang melambung, rumah yang semakin langka dan mahal, usaha ekonomi yang sulit, mencari pekerjaan yang seolah berebut kepentingan hidup dan mati, dan sebagainya. Bukankah ke semua hal tersebut tidak pernah terpikirkan oleh banyak orang di negeri ini tak terkecuali di Cirebon? Pesan ingsun titip fakir miskin sesungguhnya dapat dimaknai sebagai pengejawantahan tegaknya nilai kemanusiaan yang bermula dari penghargaan Negara terhadap Warga negaranya, bagaimana penghargaan warga Negara terhadap warga Negara lainnya, karena dasar dari kemanusiaan adalah empati dan simpati. Namun apakah kedua itu masih dapat kita upayakan dalam irama budaya masyarakat yang seolah diam dan acuh terhadap segala ketidakberesan kondisi saat ini? Sunan gunung Jati yang dianggap sebagai patron misionaris agama Islam di Wilayah Cirebon sebenarnya memiliki kedalaman pesan yang seharusnya dapat kita maknai dengan bijak. Ingsun titip tajug lan fakir miskin adalah khasanah budaya moral masyarakat Cirebon yang harus terus kita pelihara namun jangan salah kaprah dalam memaknainya. Karena dalam untaian kata tersebut memiliki makna yaitu Kesetaraan, Keadilan, Guyub dan yang terakhir dalam menunjang nilai tersebut adalah rasa Kemanusiaan.