Thursday, 19 June 2014

Berkunjung ke Kroya

Beberapa hari yang lalu saya sempat berkunjung ke sebuah kota kecil yang terletak di wilayah timur Kabupaten Cilacap. Kota ini bernama Kroya. Adapun lokasi persisnya yaitu berbatasan langsung dengan wilayah Banyumas di sebelah utara, Nusawungu di sebelah timur, kecamatan Adipala di sebelah barat dan kecamatan Binangun di sebelah selatan. Tidak lama saya berada di kota ini, hanya sekedar untuk transit. Namun waktu yang singkat saya manfaatkan dengan baik untuk mengambil beberapa dokumentasi catatan perjalanan dan mengisi perut karena sudah saatnya untuk makan siang.
Kebetulan tepat disebelah stasiun kereta api Kroya terdapat kedai makan yang bernama Bandar Kroya, yang menarik yaitu kedai ini kepunyaan dari salah satu finalis Master Chef Indonesia musim pertama yang bernama Agus. Menu yang saya pesan adalah Ayam bumbu telor Asin. Tidak tanggung-tanggung yang saya minta untuk memasakkan adalah sang Master Chef sendiri. Harga yang ditawarkan tidak begitu mahal dan rasanya pun juga lumayan.
Setelah selesai makan saya langsung meneruskan perjalanan ke kota berikutnya. Demikian sedikit pengalaman saya mengunjungi kota Kroya.
 

Monday, 16 June 2014

Balai Adat Melayu Indera Perkasa di Pulau Penyengat Kepulauan Riau



Saya ingin mengajak rekan-rekan semua untuk mengingat sejenak kejayaan Kerajaan Melayu tempo dulu dengan mengunjungi salah satu bangunan peninggalan sejarah di Pulau Penyengat, Propinsi Kepulauan Riau. Bangunan ini dinamakan Balai Adat Melayu Indera Perkasa. Lokasi bangunan tersebut menghadap ke pantai dan hanya jalan yang membatasinya. Sampai sekarang bangunan tersebut berdiri megah dan masih digunakan oleh warga Pulau Penyengat sebagai Balai Adat dengan kegiatan seperti pertemuan-pertemuan atau kegiatan lain yang ada kaitannya dengan adat Resam Melayu Riau.
 
Di dalam Kompleks Balai Adat Melayu terdapat Balai Utama yang berukuran cukup besar serta lima buah balai kecil yang berada di kedua sisinya. Begitu masuk ke bagian depan dari Balai Utama, kami mendapati deretan puisi-puisi Gurindam 12 dipanjang di dindingnya. Dari sini, kami bisa dengan jelas melihat indahnya pemandangan laut dengan sebuah dermaga yang panjang menjorok ke lautan.
Bagian dalam Balai Utama merupakan bagian yang tak boleh dilewatkan. Sayapun segera masuk ke dalamnya. Beberapa photo dari para sultan dipajang di dinding bagian atas. Ruang bagian dalam tersebut merupakan ruang acara pernikahan. Warga Pulau Penyengat biasanya melangsungkan pesta pernikahan di ruang tersebut. Dan bagusnya lagi, tiga buah pelaminan telah tersedia permanen di sana. Tampilannya yang ngejreng khas Melayu, tentu saja menjadikan pesta pernikahan mereka menjadi semarak. Di hari-hari biasa, ketiga pelaminan tersebut menjadi salah satu daya tarik dari Balai Adat Melayu. Hampir semua pengunjung menyempatkan diri untuk berphoto di sana. Termasuk saya...hehe....

Di sisi kanan dari Balai Utama di sana terdapat ruangan yang digunakan sebagai kamar pengantin. Ada kamar tidur pengantin berwarna kuning dengan kelambu berwarna putih serta berbagai hiasan kain yang dipasang di dinding kamar. Sebagaimana rumah panggung khas Melayu, Balai Adat ini juga memiliki bagian bawah. Nah, di bagian bawah tersebut terdapat mata air. Saya pun mencoba merasakan sensasi jernih airnya dengan  membasuh muka dengan air tersebut. Mungkin panasnya mentari yang sinarnya mengenai wajah terasa akan menyegarkan kembali oleh siraman air yang dingin.
 

 
Demikian sedikit ulasan kisah perjalanan saya mengunjungi Balai Adat Melayu Indera Perkasa di Pulau Penyengat Kepulauan Riau.



Saturday, 14 June 2014

Menikmati Keindahan Pantai Pangandaran

Alhamdulillah kali ini saya berkesempatan untuk menikmati keindahan pantai yang konon dinobatkan sebagai pantai terbaik di Pulau Jawa versi AsiaRooms (perusahaan situs web penyedia layanan reservasi hotel secara online terutama untuk wilayah Asia dan Oseania).
Pantai ini diberi nama Pantai Pangandaran. Sebagai salah satu destinasi wisata di Jawa Barat yang paling menarik perhatian wisatawan domestik dan mancanegara, Pantai Pangandaran menawarkan pasir pantai hitam dan putih, ombak yang tenang dan pemandangan matahari terbenam yang spektakuler. Pantai ini terletak di semenanjung pantai selatan Jawa Barat sekitar 91 km dari Ciamis.
Semenanjung cantik yang menghadap ke samudra hindia ini dulu hanya dikenal sebagai kota nelayan kecil, dimana nelayan pergi di pagi hari dan kembali pada sore hari dengan membawa ikan. Ketika nelayan tiba, semua penduduk setempat akan membantu mereka membawa ikan ke pantai. Kegiatan ini masih dapat dilihat sampai hari ini, Anda juga dapat berpartisipasi dan merasakan sensasi menarik jaring ikan yang berat ke pantai.
Pantai ini adalah tempat yang ideal untuk wisata keluarga. Di sini, ombaknya relatif tenang, sehingga Anda dan keluarga bisa berenang. Anda juga dapat berjemur di bawah sinar matahari atau hanya sekedar menikmati panorama mempesona. Di sekitar pantai merupakan bukit hutan yang juga merupakan cagar alam. Hutan ini adalah tempat tinggal bagi banyak monyet, rusa, kerbau dan hewan eksotis lainnya. Ada juga sejumlah gua-gua alami dan gua buatan manusia, beberapa dibangun oleh Jepang selama Perang Dunia Kedua sebagai bunker pertahanan.

Berikut adalah beberapa dokumentasi yang sempat saya abadikan :
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 




Tuesday, 10 June 2014

Menelusuri Legenda Kemamang di Sidareja


Saat pertama kali mejejakkan kaki di Sidareja ada panggilan yang hangat menyapa saya “Priwe kabare Kang ...?”, ternyata teman saya datang dari sebelah pintu masuk Stasiun Kereta, panggilan  ini adalah sapaan khas daerah Sidareja yang biasa dilakukan kalau baru pertama ketemu. Sidareja adalah sebuah Kota Kecamatan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Indonesia. Sidareja berada di jalur lintas selatan, serta jalur kereta api lintas selatan. 
Sidareja sebuah kota kecil yang menyimpan banyak cerita legenda, salah satunya adalah adanya Kemamang. Pertama kali saya membaca cerita itu sangatlah penasaran. Yang tertanam dalam pikiran saya adalah apakah benar ada makhluk tersebut. Dari beberapa referensi cerita yang sempat saya baca "Konon sekitar tahun 1970-an di pesawahan yang letaknya tidak terlalu jauh dari stasiun kereta api Sidareja. Lebih tepatnya pesawahan ini terletak sekira 500 meter ke arah barat dari stasiun Sidareja. Di sekitar pesawahan tersebut sering muncul mahluk misterius "kemamang". Bentuk yang dapat dilihat secara kasat mata berbentuk kilatan api berwarna merah kuning kemerahan. Lebih tepatnya seperti obor yang dipakai pada acara pembukaan olimpiade. Mahluk yang muncul secara misterius ini hampir setiap malam berada di sekitar Temiang. Temiang adalah sebuah daratan atau gundukan tanah yang berada di sekitar pertengahan pesawahan. Ketika tahun 1970, wilayah Sidareja masih sangat tertinggal dengan keadaan alam yang asri, belum tersentuh pembangunan yang memadai dan belum memiliki jaringan listrik. Dengan kondisi seperti ini membuktikan bahwa kenampakan mahluk misterius yang bernama kemamang ini hampir dipastikan memiliki kebenaran. Alasannya di sekitar wilayah pesawahan tersebut belum ada penerangan listrik sehingga sangat tidak mungkin jika kenampakan mahluk misterius tersebut sebuah halusinasi pembiasan cahaya lampu".
Dari cerita yang ada tersebut, saya mencoba mengkonfirmasi ke beberapa teman, dan alhasil teman saya malah belum pernah mendengar cerita tersebut. Bagi saya benar tidaknya keberadaan mahluk tersebut tidak akan mempengaruhi iman dan percaya kita kepada Tuhan yang telah menciptakan manusia sebagai mahluk yang mulia. Sebagai mahluk mulia yang memiliki akal, pikiran yang sehat tentunya tidak mudah mempercayai segala sesuatu yang belum tentu kebenarannya.
Demikian cerita dari saya, hanya sekedar corat coret kepingin mamerna Sidareja men terkenal nang dunia maya, minimal ya wong Sidareja ngerti wilayahe dewek karo apa bae sing terjadi nang Sidareja.

Salam  dari Nyong....
  

Monday, 9 June 2014

Sumber Jenon di Kabupaten Malang

Satu lagi keindahan alam yang berada di desa Gunung Ronggo, Kecamatan Tajinan, Kabupaten Malang yang ingin saya tampilkan. Pada hari minggu tanggal 08 Juni 2014 saya berkesempatan mengunjungi kota dingin Malang. Tujuan kami berangkat kesana untuk takziah ke ibu mertua salah satu anggota Tim Wiyak Bumi Wiyak Langit yang meninggal dunia. Perjalanan saya tempuh sekitar 3 jam dari kota Lumpur Sidoarjo. Setelah acara takziah selesai kami sempatkan menuju ke salah satu obyek wisata yang menurut saya masih alami dan belum terawat dengan baik. Nama obyek wisata ini adalah Sumber Jenon. 
Kami berangkat menuju ke sana masih pagi, jadi belum banyak pengunjung yang datang. Kesan yang saya tangkap adalah suasana yang masih mistis dan angker. Seperti biasa saya langsung keliling dan mengambil beberapa gambar untuk saya dokumentasikan. Di ujung sebelah timur masih ada sisa sesaji yang sepertinya baru saja orang menaruh disitu. Teman saya yang asli orang sana lalu bercerita tentang beberapa hal mistis yang pernah terjadi di sekitar Sumber mata air ini.
Adapun Sejarah Sumber Jenon yang sempat saya gali dari beberapa sumber informasi yaitu konon pada tahun 1818, Rantung Wirogati yang merupakan Perwira Kerajaan Mataram. Bersama sang istri yang bernama Irogat, Rantung mengungsi ke kawasan ini. Kejadiannya paska peperangan. Tujuannya untuk menyelamatkan diri. Ditempat itu keduanya lantas bertahap hidup. Keduanya kemudian bercocok tanam dengan hasil tani yang melimpah. Saat musim kemarau (Paceklik) tiba, hasil tanamannya tak mendapatkan irigasi yang cukup. Akhirnya semua tanaman mati. Sementara, persediaan makanan sudah semakin menipis. Akhirnya Rantung Wiragati pamit pada sang istri untuk mencari pengairan. Dan bertapalah Rantung Wirogati di atas Gunung harimau di bawah Curah Pohon Jenu (pohon kuno). Dalam pertapaan tersebut tiba-tiba bertiup angin kencang. Tiupan itu lantas menyumbangkan pohon Jenu ke dalam ledukan Tanah. Bongkahan pohon tersebut mengeluarkan sumber air yang begitu deras sehingga menggenangi ledukan tanah. Konon batang pohon Jenu tersebut berubah menjadi Naga yang bila ditusuk dapat mengeluarkan darah. “Setelah kejadian itulah sumber itu diberi nama Sumber Jenon,”