Sunday, 6 April 2025

Buah Merah Pulau Bawean


Sebagai sebuah pulau, Bawean memiliki banyak keunikan yang tidak bisa dijumpai di daerah lain, salah satunya ada buah yang khas yaitu Buah Merah. Buah Merah yang ada di Pulau Bawean ini tidak bisa ditemukan di daerah lain. Buah Merah Bawean ini juga berbeda dengan Buah Merah dari Papua.

Musim berbuah pohon ini antara April sampai Agustus. Buah Merah asal Bawean memiliki rasa yang manis dan lezat. Ada dua jenis Buah Merah yaitu Buah Merah yang berwarna merah dan Buah Merah Mentega yang berwarna kuning.

Saya berkesempatan mencicipi buah merah yang berwarna merah, awalnya saya kira rasanya nggak enak, begitu saya cium aromanya sangat harum, dan ternyata rasanya juga legit serta manis



Saturday, 28 October 2023

Selalu Berfikir Positif di setiap Keadaan

 


Berbagai kejadian dan peristiwa yang dialami dalam keseharian merupakan konsekuensi logis dari kehidupan yang harus dihadapi. Dengan semakin kompleksnya kehidupan yang terus berubah dari waktu ke waktu, maka seseorang harus siap menghadapi dan menyikapi kejadian dan kenyataan hidup yang terjadi.

Kejadian dan peristiwa hidup yang dihadapi bukan serta merta muncul begitu saja, tetapi karena adanya hukum universal yang bekerja. Berbagai kejadian dan peristiwa yang dihadapi ini sebenarnya bersifat netral. Kebahagiaan dan penderitaan timbul sebagai akibat dari pikiran seseorang dalam menyikapi kejadian dan peristiwa tersebut. Orang yang dapat berpikir positif akan tetap merasa bahagia seberat apapun kenyataan yang dihadapi, sebaliknya orang yang berpikir negatif akan tetap merasa hidupnya menderita walau semudah apapun kenyataan yang ada.

Hidup yang tidak kekal ini membuat kondisi yang menyenangkan dan kondisi yang tidak menyenangkan datang silih berganti. Berpikir positif adalah melihat segala sesuatu sebagaimana adanya. Berpikir positif merupakan proses pikiran yang dapat melihat segala sesuatu apa adanya, yaitu : timbul, bertahan dan tenggelam.

Jika kita dapat melihat segala sesuatu sebagai suatu proses, maka itu adalah proses yang sangat wajar dari segala sesuatu. Jika kita dapat melihat dan memahami segala sesuatu sebagai sesuatu yang wajar mengalami perubahan, maka kita akan melihat kesunyataan.

Seseorang yang memiliki pola pikir bahwa perubahan adalah proses yang wajar dan alami dari segala sesuatu yang ada di alam semesta ini, maka tidak akan timbul kekecewaan dalam dirinya terhadap kondisi apapun yang dihadapi.

Pikiran positif yang dilandasi dengan pengertian kebenaran universal yang akan membentengi diri kita dari berbagai hal yang dapat membuat pikiran kita tidak dapat melihat segala sesuatu sebagaimana apa adanya.

Jika pikiran kita dapat melihat segala sesuatu sebagaimana adanya sebagai suatu proses maka pikiran kita akan dapat menanggapi berbagai kejadian dan peristiwa dengan cara yang lebih bijaksana.

Orang yang berpikir negatif akan membuat dirinya menjadi negatif, sebaliknya dengan berpikir positif ia akan menjadi seperti apa yang dipikirkannya. Untuk itu seseorang yang memiliki cara berpikir negatif hendaknya dapat mengubah cara berpikirnya. Karena dengan dapat berpikir positif dalam menghadapi segala sesuatu, ia akan selalu berbahagia pada kondisi apapun yang dialami.

Berusahalah untuk selalu berpikir positif karena berpikir positif adalah cara terbaik yang dapat mengatasi berbagai macam kondisi yang hadir dalam kehidupan kita.

Semoga semua makhluk berbahagia.

Wednesday, 26 April 2023

Renungan Makna Tentang Kebahagiaan

 


Sebagian orang mengatakan bahwa kebahagiaan itu letaknya pada harta. Akan tetapi yang berpikiran begini adalah orang yang putus asa dalam kemiskinannya. Hendak menjadi kaya namun selalu gagal. Kadang-kadang pendapatnya tak didengar orang lantaran ia miskin. Karena itu diputuskannyalah bahwa bahagia itu pada uang, bukan lainnya. Kaidahnya ini berasal dari hati yang kecewa.

Namun pada prakteknya banyak juga yang tidak menemukan kebahagiaan meskipun ia sudah mencapai maksudnya. Contohnya adalah orang miskin yang mengejar kekayaan, sebab dalam bayangannya, jika kaya ia akan mampu menolong sesama. Akan tetapi, setelah kaya ia malah menjadi sombong dan kikir. 

Pada dasarnya mereka yang menilai kebahagiaan dengan materi hanyalah orang-orang yang tertipu, karena segala sesuatu yang ada di dunia ini hanya memiliki harga sesuai kemampuan manusia untuk menghargainya. Buku yang sarat ilmu hanya akan dijual kiloan di pasar loak oleh para penjual yang tak mengerti isinya. Orang yang tak paham bedanya emas dan kuningan akan menjual keduanya dengan harga yang sama.

Manusia juga punya kecenderungan untuk rindu pada sesuatu yang belum ada padanya, sebab segala isi dunia ini indahnya sebelum ada di tangan. Contoh nya Rockefeller, yang sepanjang hidupnya mengejar kekayaan, namun setelah menjadi miliuner, semuanya itu tak lagi berarti. Di usianya yang sudah 97 tahun, ia hanya ingin agar dicukupkan hidupnya menjadi 100 tahun.

Ternyata harta yang banyak itu tak mampu sekadar untuk membeli kekurangan yang tiga tahun, karena pada tahun itu juga ia wafat. Sesuatu yang belum kita miliki sering disangka menjanjikan kebahagiaan, namun manusia kerap kali tidak mampu menghargai apa-apa yang sudah dimilikinya.

Islam mengajarkan pada manusia empat jalan untuk menuju kebahagiaan. Pertama, harus ada i’tiqad, yaitu motivasi yang benar-benar berasal dari dirinya sendiri. Kedua, yakin, yaitu keyakinan yang kuat akan sesuatu yang sedang dikerjakannya. Ketiga, iman, yaitu yang lebih tinggi dari sekedar keyakinan, sehingga dibuktikan oleh lisan dan perbuatan. Tahap terakhir adalah ad-diin, yaitu penyerahan diri secara total kepada Allah, penghambaan diri yang sempurna. Mereka yang menjalankan ad-diin secara sempurna tidaklah merasa sedih berkepanjangan, lantaran mereka benar-benar yakin akan jalan yang telah Allah pilihkan untuknya.


Thursday, 2 March 2023

Inspirasi Makna Kesuksesan

 


Inspirasi dan motivasi memang merupakan warna bagi kehidupan. Itu menjadi alasan seseorang dalam berperilaku dan bersikap. 

Mungkin bagi sebagian orang inspirasi dan motivasi datang dari orang hebat dan sukses. Orang hebat yang didefinisikan yaitu telah meraih kesuksesan, terutama pada suatu bidang yang dirasa sama. 

Kesuksesan yang dimaksud lainnya seperti menemukan suatu penemuan, meraih kekayaan, sukses dalam study dsb. Namun di sisi lain, ada sebagian orang yang mengambil ibrah atau pelajaran dari orang yang terbilang kurang beruntung.

Awalnya saya beranggapan bahwa kesuksesan merupakan sebuah hasil. Maksudnya yaitu ketika menghasilkan sesuatu hal atau meraih sebuah pencapaian mengagumkan. Akan tetapi ketika saya mulai bergelut dengan dunia yang penuh sandiwara ini, saya merenungkan suatu hal tentang kesuksesan. 

Hasilnya yaitu kesuksesan merupakan sebuah proses. Tapi bukan berarti menyalahkan kesuksesan itu sebuah hasil, ini hanya teragantung bagaimana kita mempersepsikan hal demikian. Saya merasa bahwa menikmati sebuah proses akan lebih memaknai hidup, sehingga kesuksesan bagi saya adalah memaknai kehidupan ini.

Pencarian makna kehidupan pun dimulai saat itu. Pertanyaan yang sering terlontarkan dalam pikiran adalah "bagaimana caranya untuk hidup sebagai manusia ?"

Jawaban dari pertanyaan tersebut adalah berguna bagi manusia atau mencintai nilai-nilai kemanusiaan.

Sebagai seorang manusia pastilah memiliki rasa empati terhadap sesama manusia. Dengan empati, seseorang akan merasakan bagaimana orang lain menjalani hidup. 

Mungkin itu sedikit coretan mengenai inspirasi dari makna kesuksesan versi saya.

Sunday, 25 December 2022

Kebersamaan dalam Keberagaman di RW 06

 


Mengapa banyak diantara kita sering mengatakan kebersamaan itu indah, kebersamaan itu menyenangkan, kebersamaan itu meski jauh namun terasa dekat atau bisa sebaliknya, dan masih banyak lagi versi dari setiap orang yang memaknai arti suatu kebersamaan.

Untuk itu mari kita bersama-sama mencari tahu apa arti kebersamaan yang sesungguhnya dan apa benar dengan adanya rasa saling kebersamaan bisa membuat seseorang memiliki rasa solidaritas sehingga bisa menciptakan suatu kekeluargaan yang erat.

Kata sesimple kebersamaan mengandung makna yang mendalam karena kebersamaan memang indah. Kebersamaan bukanlah suatu hubungan yang identik dengan selalu bersama secara fisik melainkan bagaimana suatu hubungan yang dapat merapatkan hati dengan antar sesamanya karena hati itu sesuatu yang abstrak yang tidak bisa dinilai oleh panca indra biasa. 

Banyak persoalan-persoalan yang akan lebih mudah diselesaikan jika dengan kebersamaan. Sebaliknya bila kebersamaan terpecah belah akan pahit rasanya dan akan banyak pengorbanan yang dibutuhkan untuk memperbaikinya kembali. Karena dengan kebersamaan kita bisa merasakan kasih sayang yang sudah terpancar dari orang-orang yang terkasih dan hal ini yang dapat menjadikan suatu motivasi diri dalam menjalani lika-liku kehidupan.  

Dalam menjalin suatu kebersamaan, pastinya kita memiliki tujuan yang sama yaitu menciptakan suatu keutuhan persatuan dan kesatuan bersama yang menjadikan kekuatan dalam mewujudkan visi dan misi yang ingin dicapai. Hal ini meski ada hubungan timbal balik, dalam suatu istilah Simbiosis Mutualisme yang diartikan hubungan antara kedua makhluk hidup yang saling berhubungan yang sama-sama diuntungkan karena adanya hubungan tersebut. 

Dari sanalah kita akan bisa mengartikan betapa indahnya kebersamaan, terkhususnya pada kami semua warga RW 06 yang terdiri dari berbagai macam suku, agama, ras dan antar golongan. Meskipun banyak keragaman itu tidak menjadi penghalang bagi kami untuk terus maju mewujudkan lingkungan yang saling memiliki rasa kasih kepada antar sesama.

Salah satu bentuk kegiatan yang kami lakukan dalam mencipatakan rasa kebersamaan dalam keberagaman yaitu dengan saling bersilaturahmi. Meskipun yang menjalani Perayaan Natal adalah warga Nasrani kami warga Muslim juga ikut mengamankan proses berlangsungnya kegiatan tersebut.

Jadi dalam menjalin sebuah kebersamaan, kita harus mau belajar bagaimana pentingnya saling memahami, mau mendengar, mau berbagi dan mau untuk peduli. Dengan begitu kita akan bisa memaknai. Karena kebersamaan itu indah saat dijalani dan indah saat kenangannya diingat.










Sunday, 27 November 2022

Program CSR Danamon tahun 2022 di Gelora Bung Tomo Surabaya

 


Sebuah kebanggaan yang luar biasa bisa tergabung dalam kepanitiaan program CSR yang dilakukan oleh perusahaan tempat saya bekerja. Dimana sasarannya kali ini adalah penanaman pohon dan revitalisasi taman entrance VIP Gelora Bung Tomo yang merupakan Gelora kebanggan warga Jawa Timur.

Kegiatan tersebut syukur alhamdulillah sudah selesai kami lakukan dan sudah kami serah terimakan secara simbolik kepada Pemerintah daerah yang diwakili beberapa Kepala Dinas seperti Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Surabaya, Kepala Dinas Kebudayaan Kepemudaan dan Olahraga serta  Pariwisata Surabaya, dan beberapa perangkat terkait di wilayah tersebut.

Tanggung jawab sosial perusahaan/CSR merupakan salah satu bagian dari strategi bisnis perusahaan dalam jangka panjang. Tanggung jawab sosial atau corporate social responsibility (CSR) adalah suatu konsep bahwa organisasi, khususnya perusahaan adalah memiliki suatu tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan seperti terhadap masalah-masalah yang berdampak pada lingkungan seperti polusi, limbah, keamanan produk dan tenaga kerja. 

Corporate social responsibility merupakan komitmen usaha untuk bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan berkontribusi untuk peningkatan ekonomi bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup dari karyawan dan keluarganya, komuniti lokal dan masyarakat secara lebih luas.

Mungkin cukup dulu coretan pagi ini. Semoga bermanfaat.









Saturday, 7 May 2022

Mudik tahun 2022

 



Syukur Alhamdulillah mudik lebaran tahun 2022 bisa diperbolehkan pemerintah setelah dua tahun lalu terhalang dengan parahnya dampak pandemi Covid-19.

Sebab mudik Lebaran, sejak lama sudah menjadi tradisi tahunan yang biasa dilakukan pada bulan Ramadhan hingga momen Idul fitri.

Makanya mudik Lebaran jadi momen spesial bagi perantau yang ingin bersilaturahmi ke orang tua atau sanak saudara sekaligus demi melepas rindu akan suasana di kampung halaman.

Konon kebiasaan mudik sudah ada sejak zaman Majapahit dan Mataram Islam. Di mana kebiasaan ini terjadi di wilayah kekuasaan Majapahit hingga ke Sri Lanka dan Semenanjung Malaya.

Karena wilayah kekuasaannya yang luas, Kerajaan Majapahit menempatkan pejabat-pejabatnya di daerah-daerah kekuasaan.

Suatu waktu, pejabat itu berkeinginan pulang ke pusat kerajaan untuk menghadap raja dan mengunjungi kampung halamannya.

Dan hal inilah yang kemudian dikaitkan dengan fenomena mudik. 

Selain berawal dari Majapahit, mudik juga dilakukan oleh pejabat dari Mataram Islam yang berjaga di daerah kekuasaan. Terutama mereka balik menghadap raja pada Idul Fitri.

Akan tetapi, istiliah mudik baru populer sekitar 1970-an yang membuat kata ini menjadi sebutan untuk perantau yang pulang ke kampung halamannya.

Selain itu dalam bahasa Jawa, masyarakat mengartikan mudik sebagai akronim dari mulih dhisik yang berarti pulang dulu.

Bagi saya mudik tahun ini giliran ke rumah mertua yang ada di Pulau Bawean. Moda transportasi yang kami pilih adalah jalur laut. Pilihan nya sebenarnya bisa jalur udara, mengingat pesawat nya kecil dan terbatas jumlah yang bisa diangkut, maka jalur laut menjadi pilihan yang kami pilih.

Bagi para pemudik, dalam beberapa hari kedepan kita sudah harus kembali lagi ke tempat perantauan masing-masing. Jadi tetap jaga kesehatan agar bisa melaksanakan aktifitas seperti sedia kala.

Saturday, 16 April 2022

Memahami Bahasa Tersurat dan Tersirat

 


Sebagai makhluk sosial tentunya kita selalu melakukan komunikasi. Apabila membahas tentang komunikasi pasti berhubungan dengan metode atau cara yang digunakan. Ada yang menggunakan bahasa tulis ada yang menggunakan bahasa non tulis.

Ketika kita sedang berbicara tentunya menginginkan agar para pendengar dapat memahaminya. Hal ini pula yang diterapkan ketika sebuah tulisan dibaca, maka isi dari tulisan tersebut diharapkan dapat dipahami oleh para pembacanya.

Dalam beberapa bulan terakhir ini kita sedang fokus pada hal kebersihan lingkungan, khususnya area fasilitas umum atau fasum. Banyak yang menyarankan agar setelah dibersihkan diberi tulisan agar tidak membuang sampah, gragal, potongan pohon dll di lokasi fasum. Hal inilah yang disebut bahasa tersurat agar pesan nya bisa sampai kepada pembacanya.

Sebenarnya berkaitan dengan hal ini ada bahasa tersirat yang sudah bisa dibaca sejak awal dilakukan proses pembersihan yaitu kalau fasum dibersihkan oleh petugas taman, artinya setiap kita seyogya nya tidak membuang segala bentuk kotoran, sampah, potongan kayu dll di fasum tersebut.

Semoga tulisan ini mengandung bahasa tersirat dan tersurat bagi setiap pembacanya bahwa kami menginginkan agar fasum kita menjadi bersih karena sejatinya kita semua mempunyai tanggung jawab yang sama untuk menjaganya.

Terimakasih



Wednesday, 26 January 2022

Berlombalah menjadi manusia yang bermanfaat

 


Di dalam hidup ini, kita tidak perlu berupaya untuk menjadi seseorang yang disegani, apalagi ditakuti. Tetapi jadilah seseorang yang berguna bagi siapa pun di sekeliling kita. Kita wujudkan jiwa kepemimpinan dalam diri kita, agar diri kita bisa menjadi seseorang yang menginspirasi orang lain.

Mengapa Harus Menjadi Pribadi Yang Bermanfaat?

Menarik sekali, banyak tulisan yang membahas pentingnya menjadi pribadi yang bermanfaat. Mengapa banyak orang yang tertarik tentang bahasan ini, sebab ini adalah salah satu perintah Rasulullah saw kepada umatnya. 

Sabda beliau:

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain."

Menjadi pribadi yang bermanfaat adalah salah satu karakter yang harus dimiliki karena sejatinya apabila kita memberikan manfaat kepada orang lain, semuanya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri. 


Monday, 27 December 2021

Hikmah dalam Perbedaan

 


Harus disadari bahwasanya Bumi merupakan tempat tinggal seluruh umat manusia dan makhluk lainnya. Sesungguhnya kita merupakan sebuah keluarga besar. Kita hidup di bawah langit dan berpijak di pertiwi yang sama, yaitu Bangsa Indonesia yang Indah ini. Dan Tuhan sebagai penguasa kita semua. Walau kenyataannya semua orang berbicara berbeda-beda, dan menganut agama berbeda-beda pula, namun semuanya seperti dalam satu wadah, semogalah kita tiada saling membenci.

Laksana tubuh kita yang terdiri dari beragam organ, dengan masing-masing fungsinya, atau seperti seperangkat gamelan yang menghasilkan nada berbeda, namun semuanya hadir untuk saling melengkapi. Sehingga, menghasilkan mozaik kehidupan yang dinasmis, indah dan harmoni. 

Demikian pula manusia yang berbeda, semuanya hadir membawa  bakat, dan guna yang berbeda. Namun, semuanya memiliki tujuan hidup yang sama yakni hidup bahagia dan terhindar dari penderitaan, baik jasmani dan rohani. Untuk itu, tidak ada alasan bagi kita untuk mengklaim sebuah kebenaran, apalagi mengembangkan rasa dengki, picik, fanatisme sempit.

Harus kita sadari kembali bahwasanya Tuhan Yang Maha Esa meresapi semua makhluk. Semua kenampakan  yang ada di semesta ini sejatinya adalah wujud kosmis dari Tuhan.

Konsep ini tentu  mengisyaratkan bahwasanya kita tidak memiliki legitimasi untuk membenci orang lain. Sebab, di dalam setiap mahluk ada esensi Ketuhanan yang sama. Itu sebabnya, tidaklah salah pendiri Bangsa ini menjadikan Sesanti Tutur Sutasoma sebagai perekat keberagaman Indonesia: Bhineka Tunggal Ika.

Untuk itu, sekali lagi, saya mengajak  untuk selalu dapat Hidup dalam harmoni dan kerukunan. Hendaknyalah kita bersatu dan bekerja sama. Berbicara  dengan satu bahasa (Bahasa Kasih Sayang) sehingga kita bisa berkembang, maju bersama-sama dalam bingkai saling asih, saling asuh, dan saling asah. Seperti apa yang telah dicontohkan oleh orang-orang suci di masa lalu yang telah melaksanakan  kewajibannya di jalan kebenaran sejati, semestinya demikianlah kita tidak goyah dan terbawa egoisme sempit.

“Tujuan pengetahuan adalah kearifan. Tujuan peradaban adalah kesempurnaan. Tujuan kebijaksanaan adalah kebebasan. Dan, tujuan pendidikan adalah karakter yang baik”.

Mari kita kembangkan sikap dan sifat mencintai semua dan tidak membenci siapapun. Dengan demikian, kita akan dapat membangun peradaban kehidupan yang lebih santun, lebih beradab dan berkesalehan sosial.

Hanya dengan hidup Harmoni kita bisa tumbuh menjadi bangsa yang maju dan sejahtera. Karena kebencian hanya akan berujung pada penderitaan dan perpecahan.

Saturday, 30 October 2021

Waktu Berjalan Serasa Begitu Cepat

 


Waktu berjalan serasa begitu cepat, perasaan baru saja saya menggendong anak yang pertama, ternyata sekarang tinggi nya sudah melebihi saya. Tentunya puji syukur serta doa yang hanya bisa saya panjatkan, "Ya Allah, isilah hati anak-anak kami dengan cahaya dan hikmah, dan jadikan mereka hamba-hamba-Mu yang layak untuk menerima nikmat-Mu, dan perbaikilah diri mereka dan perbaiki pula umat ini melalui mereka".

Disadari atau tidak bahwa menjadi orang tua adalah sebuah pekerjaan yang tiada habisnya. Setidaknya itu pendapat saya saat mengalami sendiri menjadi orang tua bagi ketiga anak saya. Bak mencukur kumis dan jenggot, sebaik dan sehalus apapun seorang laki-laki melakukannya, keesokan harinya atau beberapa hari kemudian dia harus melakukannya lagi. 

Bak mencuci piring atau baju, setelah beberapa saat seorang ibu harus melakukannya lagi dan lagi. Jika bisa diandaikan, seperti itulah tugas sebagai orang tua. 

Semua hal ini akhirnya bergulir saat buah hati memasuki fase atau tahapan tersulit dalam menjalani tugas sebagai orang tua. Konon fase tersebut adalah saat anak-anak menginjak masa-masa remaja. Masa peralihan dari dunia anak-anak menuju dunia dewasa yang lebih kompleks.

Menjadi lebih sulit lagi, jika tugas dan kewajiban mengawasi serta membimbing para remaja ini harus dilakukan dengan keterbatasan waktu pengawasan karena kesibukan. Saya sadar betul akan hal itu, oleh karenanya saya memilih untuk menitipkan anak pertama di Pesantren. Minimal agar masa-masa menuju persiapan menuju dewasa bisa diisi dengan bekal ilmu agama yang mumpuni.

Sebagai orang tua, kami berharap agar ketika anak berada di Pesantren, minimal mendapatkan panduan yang kuat dalam bersikap, berucap dan bertindak. Panduan itu adalah selalu adanya dosa dan pahala dalam setiap perbuatan manusia, agar mampu membentengi pengaruh dari luar yang tak pernah kita duga. Karena dosa dan pahala lah yang seharusnya menjadi panduan tiap manusia di dunia untuk menjalani setiap apa yang dilakukannya. Bukan hanya para remaja, tetapi juga untuk kita semua.


Wednesday, 22 September 2021

Kenapa Suka Naik Gunung?

 


Beberapa waktu ini saya sering ditanya sama teman-teman, kenapa naik gunung ? Ya saya jawab asal saja, biar bisa nurunin gunung...haha....lalu dia nya diam. Memang bagi sebagian kawan yang tidak mempunyai hobi seperti saya, mesti terheran-heran. Apa enak nya naik gunung. Sudah capek, kedinginan, dari basecamp ke puncak harus memanggul carrier yang besarnya se gajah, pulang terkadang nggak bisa jalan seminggu karena nyeri, belum lagi yang ngeselin kalau ketemu temen yang suka nge-bully dan bingung kalo kita suka naik gunung.

Nah, buat kamu yang termasuk golongan baris innocent atau yang enggak tahu, melalui tulisan ini saya akan memberitahu alasan-alasan “Kenapa suka naik gunung?” 

Mendaki gunung adalah proses mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mengagumi dan menikmati ciptaan Tuhan dengan cara yang luar biasa.

Mereka yang suka mendaki itu keren kawan! Gunung adalah hasil karya Sang Pencipta yang kerennya tiada duanya. Dengan naik gunung, kamu akan melalui banyak proses yang nggak gampang. Dari situlah, kamu bakal sadar, kamu nggak ada apa-apanya dibandingin gunung yang sedang kamu daki itu.

Peluh yang kamu keluarin, tubuh yang menggigil kedinginan, seakan membuat kamu sadar, mereka sedang berdzikir menyebut nama sang Penguasa jagad. Dan dari titik itu juga, kamu bisa menghargai hidup dan bersyukur atas agungnya ciptaan Tuhan Yag Maha Esa.

Selain itu mendaki gunung itu sama halnya dengan mengenali diri sendiri. Sejauh kaki melangkah, para pendaki ini juga sedang mencari tahu siapakah dirinya sebenarnya.

Naik gunung membuat kita sadar atas pribadi kita sendiri atau teman sependakian kita. Kok bisa sih, naik gunung bisa bikin kita sadar karakter kita? Emang naik gunung sama kayak konsul ke psikolog, gitu ya? Hahaha, Oke, gak usah panik, jadi teorinya seperti ini: 

Temen kamu       : “Bro, minta airnya dong, punya gue abiss nihh”

Kamu                        : “Duhh, punya saya abis juga bro, tahan bentar ya?” 

Terpaksa bohong karna kamu juga takut air kamu abis kalo diminta, kan kamu juga butuh air kan yaa. 

Nah, dari kondisi kamu diatas, bisa aja disimpulkan kalo kamu egois! Kenapa bisa seperti itu? Karena, orang naik gunung itu bukan sekedar naik dan turun trus bisa upload foto dengan bangganya. Semuanya tentang proses, jadi intinya itu sebenarnya bukan nyampe puncak, tapi mendalami moment ndaki.

Coba deh kamu tanya sama diri kamu sendiri, saat kamu capek siapa yang bantu? Saat kamu gagal semangat, siapa yang cerewet jadi tim horeee? Saat kamu udah gak kuat? Siapa yang mau nungguin kamu? Saat kamu mendadak kena hipoksia?

Siapa yang dengan sabar nenangin kamu, memotivasi kamu supaya seloww, membuat kamu bisa move up dan termotivasi meneruskan perjalanan? Nah proses inilah yang penting, proses inilah yang bakal memberi tahu kamu, siapa mereka yang setia dan siapa yang tidak.

Jadi, kalo ada yang bilang naik gunung biar bisa kenal diri sendiri, itu bener. Karena disini, kamu bakal sadar, apakah kamu sabar, bisa toleran sama temen, atau mungkin dari ndaki ini kamu bakal sadar kalo kamu ternyata manja, kekanak kanakan dan lain sebagainya.  

Kadang kala, sifat asli sesorang akan keluar dalam kondisi dan situasi, yang serba kekurangan. Iyaa, kekurangan, kurang air, kurang makanan, kurang selimut, kurang istirahat, kurang kehangatan, kurang perhatian, kurang kasih sayang....haha....

Naik gunung itu bukan sekadar nyampe puncak terus pulang dengan segudang foto yang dipamerin, naik dengan kaos berlabel yang bisa ngasih publik tahu kalau kamu beredar atau naik untuk tujuan absurd - menaklukan alam.

Manusia itu cuma butiran debu, yang harusnya bisa sadar dan membandingkan diri yang kecil ini dengan gagahnya gunung yang sedang mereka daki. Mendaki juga bukan tentang puncak, toh puncak cuma benda mati, yang gak ada apa apanya kalo dibandingin sama mereka yang nemenin kita saat perjalanan menujunya. 

Saya rasa itu alasan nya.....

Sunday, 29 August 2021

Tut Wuri Handayani untuk Pendidikan Anak

 


Saat saya sekolah SMP dulu belum mengenal laptop, walaupun sejarah mencatat bahwa Laptop pertama kali dikenalkan oleh Osborne dan Alan Key pada tahun 1981, sementara saya SMP sekitar tahun 1993. Artinya teknologi tersebut sudah ada sekitar 13 tahun lamanya, namun saya belum pernah melihatnya, karena harga nya yang cukup mahal dan termasuk barang mewah.

Saat ini Laptop sudah bukan menjadi barang mewah lagi, melainkan sebagai kebutuhan sekunder untuk menunjang kegiatan kerja karena dinilai praktis. Tidak hanya pekerja kantoran dan mahasiswa yang membutuhkan laptop untuk keperluan tugas-tugas. Pelajar SMP pun sekarang sudah diajarkan supaya melek teknologi lewat pembelajaran komputer. Supaya apa yang diajarkan di sekolah tidak lupa, maka laptop jadi cara mempermudah belajar mengenai komputer. 

Dan sebagai orang tua, tentunya dituntut untuk mengikuti perkembangan tersebut. Saat ada pengumuman harus mengumpulkan laptop untuk anak di sekolah, ya harus diusahakan. Namanya juga ikhtiar agar anak bisa belajar lebih baik ....semoga bermanfaat dan berkah ilmunya ya le....Aamiin....

Papa dan Mamamu hanya bisa Tut Wuri Handayani.

#LaptopUntukAnakSekolahSMP




Wednesday, 25 August 2021

Usia Bukan Penghalang Untuk Mendaki Gunung

 


Saat berada di Puncak Gunung Bekel, ada pemandangan yang cukup menarik bagi saya. Diantara belasan pendaki yang ada disana, ada satu sosok yang membuat kami sangat terkesan. Beliau adalah Mbah Nik, seorang pendaki yang sudah berusia 75 tahun. 

Hal ini tentu sesuatu yang luar biasa, karena mendaki gunung membutuhkan fisik dan mental yang prima serta yang tak kalah penting adalah waktu. Sehingga naik gunung identik dengan pendaki-pendaki mahasiswa atau pemuda yang dalam usia fisik yang prima dan memiliki waktu luang karena kesibukan yang tidak terlalu padat.

Namun hal ini tidak berlaku bagi Mbah Nik. Di usia yang bagi sebagian orang sudah dapat disebut dengan kakek, Mbah Nik justru senang melakukan pendakian.

Bayangkan, di usia tersebut ia aktif mendaki disaat sebagian orang seusianya lebih memilih mengistirahatkan tubuh dan menjauhi kegiatan-kegiatan ekstrim. Dan ini adalah sesuatu yang luar biasa. 

Ada yang bilang bahwa “OBAT PALING MANJUR ADALAH HATI YANG SENANG" dan saya yakin mbah Nik melakukan pendakian ini karena senang, sehingga beliau tetap sehat di usia yang sudah tua.

Pertanyaannya adalah apakah kalian semua senang mendaki?

Jika senang maka hidup kalian semua akan lebih sehat.”

Semangat 💪💪💪☺️☺️

Saturday, 14 August 2021

Salam Hormat Para Pejuang Lingkungan

 


Mengawali segala sesuatu itu biasanya sangat sulit, namun jika tidak dimulai maka hal tersebut hanya akan menjadi hayalan belaka. 

Di negeri Cina ada ungkapan bahwa Perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah. Ungkapan ini memberitahu kita betapa pentingnya langkah pertama dalam melakukan hal apapun.

Memang benar adanya bahwa setiap kesuksesan tidak pernah muncul secara tiba-tiba. Semua diperlukan langkah pertama. Bentuknya bermacam-macam, bisa berupa kemauan keras, keberanian dan tindakan nyata. 

Seperti halnya mempelopori kegiatan pembangunan lingkungan, hal ini diperlukan kemauan keras, keberanian dan tindakan nyata. Karena hidup di masyarakat yang heterogen diperlukan jiwa yang besar, setiap individu mempunyai keinginan yang beraneka ragam, namun tidak semua nya mau melakukan hal nyata. Nah disitulah letak nya kita harus mengambil sikap untuk mau berbuat lebih dan terkadang agak memerlukan ekstra effort.

Tapi kalau sudah terjadi dan berjalan, semua akan mengikuti dan cenderung ingin menjadi yang tampak di depan. Ya tidak masalah, itulah fenomena yang kerap terjadi, garam tidak perlu tampak agar air menjadi asin. Yang terpenting adalah tujuan utama nya bisa terwujud.

Nah setelah melangkah pertama, kita harus terus melangkah. Jika tidak kita akan berhenti di tengah jalan. Berhenti sama artinya dengan tujuan yang tidak tercapai. Untuk itu kita harus melihat proses secara berbeda. 

Menjalani proses bisa berefek positif, kalau kita bisa memaknai setiap kejadian dengan cara pandang yang tepat. Saat terjadi kendala, pandanglah sebagai pembelajaran. Jika mengalami kesulitan pandanglah sebagai tantangan untuk berbuat lebih banyak dan lebih ikhlas lagi.

Semangat para pejuang lingkungan....

Salam hormat dari kami...🙏🙏👍👍💪💪

Tuesday, 10 August 2021

Dapat Telepon dari Anak di Pesantren

 

Sudah hampir satu bulan sejak PPKM diberlakukan, saya belum sempat menjenguk anak saya di pondok. Rasa kangen sebenarnya sudah mulai menyelimuti, tapi apa daya memang kondisi dan situasi belum tepat untuk kesana.

Disaat selesai sholat magrib, tiba - tiba ponsel saya berdering, dan ternyata itu adalah nomor telepon pondok pesantren yang biasa kami gunakan untuk berkomunikasi dengan anak saya.

Saya angkat dan ternyata benar si kakak sedang menelpon. "Assalamualaikum Pa", sapa anak saya. "Waalaikum salam Nak", jawab saya. Dari situ mulailah kami berkomunikasi.

Dia menjelaskan tentang beberapa kegiatan saat di pesantren dan juga di sekolah formalnya dalam beberapa waktu terakhir ini. Yang paling menarik adalah dia menyampaikan bahwa dia telah terpilih menjadi ketua OSIS di sekolah nya dan memohon doa restu kepada saya.

Yang sempat saya sampaikan adalah sebagai orang tua pasti nya bangga ketika anak nya bisa terpilih dan dipercaya sebagai ketua OSIS di sekolah, karena kepemimpinan merupakan sebuah modal strategis yang harus dimiliki, dan setiap manusia esensinya adalah seorang pemimpin.

Pembentukkan jiwa kepemimpinan dapat diperoleh melalui berbagai kegiatan intra sekolah maupun ekstrakurikuler, seperti Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Pramuka, Paskibraka, PMR dan lain-lain.

Jiwa kepemimpinan merupakan keniscayaan bagi generasi muda, karena dengan jiwa kepemimpinan, para pemuda akan mampu mengarahkan dan menggerakkan kehidupannya ataupun kehidupan orang-orang di sekitarnya untuk mencapai visi, misi, dan tujuan yang akan dicapai.

Terakhir yang saya sampaikan, selamat mengemban amanah anakku, semoga kemudahan dan keberkahan selalu menyertai setiap langkahmu.

Sekali lagi selamat atas terpilihnya Kakak Yaugy menjadi Ketua OSIS SMP Al Madinah Diwek Jombang periode 2021 - 2022.

Monday, 19 July 2021

Diperlukan kematangan dalam berfikir dan bertindak

 


Semua orang pasti menua, tapi nggak semua orang menjadi dewasa pada saat bertambahnya usia.

Kedewasaan tidak dilihat dari segi usia, karena yang menjadikan tolak ukur sebuah kedewasaan adalah kemampuan untuk memiliki pola pikir yang matang.

Umur tidak menjadi patokan untuk mengetahui kedewasaan seseorang. Bisa jadi kamu akan bertemu dengan orang yang lebih muda dari kamu, namun pemikirannya lebih dewasa dibandingkan orang yang berusia 40 atau 50 tahun.

Kedewasaan tidak datang secara instan, tapi juga tidak bisa sekadar ditunggu begitu saja. Kamu harus melatih pola pikir dan sikap dewasa lewat berbagai proses kehidupan. Kuncinya adalah kemampuan dan keinginan untuk terus berproses memperbaiki diri menjadi lebih baik, dan open minded serta berkeinginan untuk belajar dalam setiap prosesnya.

Wednesday, 30 June 2021

Kekuatan Sebuah Tulisan dan Ucapan

 


Ada ungkapan bahwa satu peluru bisa menembus satu kepala, tetapi satu tulisan bisa menembus ribuan bahkan jutaan kepala. Berapa banyak orang yang akhirnya patah semangat setelah membaca beberapa tulisan, atau sebaliknya berapa banyak orang yang akhirnya memiliki motivasi besar setelah mengikuti seminar ?

Hal ini tentu menjadi sebuah bukti bahwa tulisan dan ucapan memiliki kekuatan yang besar. Kemudian, dalam hal negatifnya juga banyak. Misalkan berapa banyak yang depresi karena membaca komentar negatif atas dirinya, atau berapa banyak yang menjadi minder karena ucapan seseorang dan seterusnya.

Sederhananya, berapa banyak orang yang akhirnya malas bertemu atau mengikuti sebuah acara karena selalu disindir, dianggap tidak mampu, tidak ada gunanya, dan seterusnya. Memang lidah tidak bertulang, tetapi sangat bisa membuat banyak orang tersakiti. 

Jadi sebuah renungan untuk kita semua, sudah berapa tulisan baik yang kita buat? sudah berapa ucapan yang membuat orang menjadi lebih baik yang kita ucapkan?

Jika masih sedikit maka, mari kita sama-sama merenung dan memikirkan benar-benar sebelum menulis atau mengucapkan sesuatu. 

Monday, 7 June 2021

Mencicipi Rujak Kecut Banyuwangi

 


Ada yang bilang bahwa Banyuwangi adalah kota seribu rujak, karena disini rujak begitu banyak sekali macamnya seperti Rujak Wuni, Rujak Locok, Rujak Lethok, Rujak Kecut, Rujak Pecel, Rujak Cemplung, Rujak Singgul, Rujak Soto, Rujak Bakso dan rujak-rujak lainnya. 

Nah hari ini saya berkesempatan mencicipi Rujak Kecut khas Banyuwangi. Mendengar nama rujak kecut, siapapun pasti akan membayangkan dominan rasa asam dalam kuliner tersebut. Namun jangan salah, bila mencoba kuliner yang satu ini, aroma harum, segar, disertai rasa gurih, pedas, manis dan asam akan membuat ketagihan.

Menurut penjual rujak kecut di Desa Wisata Osing, masyarakat Osing bila sakit kepala obatnya cukup mengkonsumsi rujak kecut. "Wong dadi obat. Lak ngelu makan rujak kecut marek." kata nya.



Friday, 4 June 2021

Tulisan saat di Bumi Blambangan

 


Jarum jam di tangan menunjukkan angka sembilan pagi. Hari itu saya mendapatkan tugas untuk berkunjung ke beberapa lokasi di ujung timur pulau Jawa. Tanah di desa Krajan, Sukojati, Kecamatan Kabat, Kabupaten Banyuwangi, masih basah karena diguyur hujan lokal sejak pagi. 

Laju mobil yang saya kendarai berjalan lambat karena harus menyusuri jalan sempit perkampungan. Dari kaca mobil, saya bisa memandang hamparan sawah di kanan dan kiri jalan.

Titik yang saya kunjungi hampir merata di seluruh Kabupaten Banyuwangi, mulai sisi utara, selatan, timur dan barat. Start saya mulai dari Rogojampi, sekitar 20 kilometer dari Kota Banyuwangi. Selanjutnya saya lanjutkan ke Cluring, Singojuruh, Genteng, Kalipuro, Muncar dan beberapa lokasi lainnya.

Dari beberapa lokasi tadi, yang paling berkesan saat berada di Muncar. Konon menurut salah satu warga yang saya ajak ngobrol ketika makan siang, Muncar adalah pusat kerajaan Blambangan yang dibangun VOC setelah kekalahan rakyat Blambangan dalam perang Puputan Bayu. Bisa disebut, di Muncar inilah periode Kerajaan Blambangan II yang bercorak Islam dimulai, dan merupakan ibu kota kerajaan terakhir sebelum akhirnya pindah ke Banyuwangi.

Di Muncar saya sempat mampir di Situs Umpak Songo, Desa Tembokrejo. Situs ini dipercaya sebagai bekas reruntuhan bagian kerajaan. Di dalam areal seluas setengah hektare itu terdapat 49 batu besar dengan sembilan batu di antaranya berlubang di tengah. Batu-batu yang tengahnya berlubang itu berfungsi sebagai umpak atau penyangga. Karena itulah, situs ini dinamakan Umpak Songo yang artinya sembilan penyangga.

VOC memindahkan ibu kota kerajaan ke wilayah ini karena letaknya yang berdekatan dengan Pelabuhan Muncar. VOC berkepentingan mengawasi Selat Bali dari kerajaan-kerajaan di Bali yang berusaha merebut Blambangan. Apalagi, kerajaan-kerajaan di Bali kerap memberi bantuan kepada Blambangan saat peperangan melawan VOC maupun kerajaan-kerajaan Islam sehingga Blambangan sulit terkalahkan.

Langkah lain, VOC akhirnya terpaksa bekerja sama dengan Mataram Islam untuk mengislamkan Blambangan sebagai upaya untuk memutus hubungan Blambangan dengan Bali. Islamisasi itu ditempuh dengan menempatkan orang-orang Mataram Islam untuk menjadi raja di Blambangan dengan harapan proses Islamisasi berlangsung cepat.

Jarum jam mulai menunjukkan pukul lima sore, sudah saat nya kembali ke penginapan. Saya merasa bersyukur dimana bisa mendapatkan sebuah pengetahuan tentang sejarah kerajaan Blambangan yang mana riwayatnya masih tetap lestari di masyarakat.