Wednesday, 13 January 2016

Mulai dari "Normal sampai Step" di Mie Jogging Malang



Ngelihat judul tulisan diatas sepertinya ada yang aneh ya...hehe...tentunya yang saya maksud disini bukan “Normal dan Step” dalam arti yang sesungguhnya, melainkan hanya sekedar istilah. Oh iya tau nggak....ternyata jagad kuliner sudah mulai memasuki dunia kedokteran saudara !!!, karena banyaknya istilah-istilah medis yang diimpor ke dapur, salah satunya yang ada di Kedai Mie Jogging Jalan Soekarno Hatta No 24 Malang ini. 
 
Ya...satu lagi kuliner mie pangsit dengan keunggulan citarasa berlevel pedasnya yang ada di kota Malang. Tingkat kepedasannya dimulai dari :
*37 derajat celcius ~ normal (tanpa cabe)
*38 derajat celcius ~ nggereges (1-10 cabe)
*39 derajat celcius ~ demam (11-20 cabe)
*40 derajat celcius ~ menggigil (21-30 cabe)
*41 derajat celcius ~ step (31-40 cabe)

Silahkan dibayangkan saat Step, kira kira seperti apa pedasnya? Huhhah....tentunya! Hehe...nampaknya kita memang sedang hidup dijaman serba pedes. maka kalau ada mie iblis, mie setan, mie petasan dll yang membakar lidah, maka di kedai yang satu inipun "setali 3 uang" alias podo wae. Apa boleh buat bahwa saat ini kita sudah memasuki era "cabe rawit" yang konon makin pedas makin keren...! lombok menjadi primadona. Bagaimana tidak, lha wong kalau kita memilih level pedas yang diatas 10 lombok, apapun jenis mie nya, yang terasa hanya lombok dan lombok! tidak percaya, silahkan dibuktikan...

Mie Jogging sedikit berbeda dari mie pedas berlevel lainnya, penyajian di Mie Jogging ini terkesan unik. Jika biasanya kita mendapati pangsit disajikan untuk pelengkap mie saja, di Mie Jogging, pangsit itu justru dijadikan sebagai wadah mie. Karena dijadikan wadah, tentu ukuran pangsitnya cukup besar dan rasanya pun juga lebih gurih.


Di Mie Jogging, anda bisa mencoba varian menu mie pedas yang tak sekedar mie biasa, seperti:
*Mie Sesuatu (dengan topping Ayam + Ati)
*Mie Selalu (dengan topping Udang + Ayam)
*Mie Banget (dengan topping Udang + Ati + Ayam)
*Mie Tom Yam
*Dll


Sebagai penawar rasa pedas, anda juga bisa memesan varian menu minuman atau dessert yang tak kalah juara rasanya. Nah.....penasaran ? silahkan mencobanya.....

Tuesday, 5 January 2016

Nyadran dan Makam Kyai Ageng Pranggang



Saat kecil saya pernah tinggal di sebuah dusun yang tidak begitu ramai, setiap tahun penduduknya selalu mengadakan tradisi budaya yang disebut dengan “Nyadran”. Masyarakat berbondong-bondong datang ke makam sambil membawa berbagai makanan. Sesampainya di makam masyarakat berkumpul dan dipimpin oleh seorang tokoh untuk berdoa bersama, salah satu doanya yaitu untuk keselamatan seluruh penduduk dusun dari segala bentuk bencana dan mara bahaya. Selain itu masyakat juga mendoakan agar “Sing Mbau Rekso” atau “Sing Mbabat Alas Deso” diampuni dosa-dosanya. Mungkin diantara rekan-rekan ada yang bertanya tentang istilah “Sing Mbau Rekso” atau “Sing Mbabat Alas Deso”, yang jelas dalam bahasa Indonesia artinya leluhur yang pertama kali menghuni desa.

Selesai berdoa makanan tersebut dimakan bersama-sama. Lalu acara dilanjutkan dengan membersihkan makam leluhur masing-masing. Kurang lebih seperti itu tradisi yang masih terekam di otak saya. Sudah begitu lama saya tidak mengikuti tradisi tersebut. Dan beberapa hari yang lalu saya berkesempatan mengunjungi kembali dusun tempat saya tinggal dulu. Maksud kedatangan saya kesini tidak lain adalah untuk ziarah ke makam kakek. Seperti kaset yang diputar kembali. Memori saya tiba-tiba teringat tradisi tersebut. Rasa penasaran mulai timbul, karena saya rasa budaya nyadran tidak hanya ada disini saja melainkan dilokasi lain di tanah Jawa juga ada.

Dan berawal dari situ mulailah saya menggali dari berbagai sumber.  Konon budaya Nyadran berasal dari tradisi Hindu-Budha. Sejak abad ke-15 para Walisongo menggabungkan tradisi tersebut dengan dakwahnya, agar agama Islam dapat dengan mudah diterima.  Pada awalnya para wali berusaha meluruskan kepercayaan yang ada pada masyarakat Jawa saat itu tentang pemujaan roh yang dalam agama Islam dinilai musrik. Agar tidak berbenturan dengan tradisi Jawa saat itu, maka para wali tidak menghapuskan adat tersebut, melainkan menyelasraskan dan mengisinya dengan ajaran Islam, yaitu dengan pembacaan ayat Al-Quran, tahlil, dan doa. Nyadran dipahami sebagai bentuk hubungan antara leluhur dengan sesama manusia dan dengan Tuhan.

Selain itu sebenarnya masih ada hal lain yang membuat saya penasaran sampai dengan saat ini, yaitu tentang keberadaan makam Kyai Ageng Pranggang yang mana didusun kami disebut sebagai Sing Mbau Rekso atau Sing Mbabat Alas Deso. Apakah kyai Ageng Pranggang adalah tokoh yang sama dengan yang ada di cerita Kebo Kicak?  sampai saat ini belum diperoleh sumber yang jelas. Andai memang Kyai Ageng Pranggang adalah tokoh yang sama di dalam lakon kebo kicak. Pastinya beliau adalah orang yang sakti mandraguna. 
 
 
Mungkin itu sedikit yang bisa saya tulis, hanya sedikit berbagi kisah masa lalu....oh iya...dusun kami bernama dusun Pranggang. Secara teritorial tepatnya berada di Desa Brambang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur.



Monday, 4 January 2016

Cerita asal-usul Sungai Brantas



Banyak diantara kita yang sangat gandrung dengan bacaan fiksi dan dongeng. Kali ini saya mencoba menulis ulang tentang sebuah kisah asal-usul sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa setelah Bengawan Solo. Sungai ini memiliki daerah aliran sungai atau DAS seluas 11.800 km² atau ¼ dari luas Provinsi Jawa Timur. Panjang sungai utama 320 km mengalir melingkari sebuah gunung berapi yang masih aktif yaitu Gunung Kelud. Sungai ini bernama Sungai Brantas.
Sungai Brantas bermata air di Desa Sumber Brantas (Kota Batu) yang berasal dari simpanan air Gunung Arjuno, lalu mengalir ke Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, Mojokerto. Di Kabupaten Mojokerto sungai ini bercabang dua manjadi Kali Mas (ke arah Surabaya) dan Kali Porong (ke arah Porong, Sidoarjo).

Menurut beberapa sumber yang sempat saya baca mengenai asal-usul sungai brantas yaitu pada jaman dahulu kala, di Jawa Timur ada sebuah kerajaan besar. Kerajaan Kahuripan namanya. Rajanya bernama Prabu Airlangga. Prabu Airlannga berasal dari Pulau Bali. Ia adalah seorang putra raja di Bali. Saat usia Prabu Airlangga sudah tua, Ia ingin menjadi pertapa. Tahta Kerajaan Kahuripan akan di serahkan pada Putri Permaisurinya yang hanya seorang. Ia putri yang cantik jelita. Namanya Sanggramawijaya. 

Sanggramawijaya menolak keinginan Ayahanda nya. Ia tidak punya keinginan menjadi Raja. Yang menjadi keinginan Sanggramawijaya adalah menjadi seorang pertapa. Ia lalu meminta restu ayahanda nya menjadi pertapa di Goa Selomangleng (Di Kaki Gunung Klotok Kecamatan Mojoroto Kota Kediri). Ia pun mengubah namanya menjadi Dewi Kilisuci. 
Prabu Airlangga lalu berkeinginan menyerahkan tahta kerajaan pada putranya yang berasal dari selir (Istri tidak resmi). Kebetulan sekali, Ia memiliki dua putra dari selir. Kedua Putranya bernama Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan. Prabu kebingungan untuk memilih salah satu yang akan di beri tahta Kerajaan Kahuripan.

Prabu Airlangga berusaha mencari jalan keluar yang adil. Ia menyuruh Empu Baradha untuk pergi ke Bali. Empu Baradha disuruh meminta tahta kerajaan milik Ayahanda Prabu Airlangga di Pulau Bali untuk salah satu putranya.

Namun, Tahta kerajaan milik ayahanda Prabu Airlangga di Bali sudah diberikan kepada adik Prabu Airlangga.

"Tahta milik Ayahanda Prabu Airlangga di Pulau Bali sudah diberikan kepada adik Prabu Airlangga yang bernama Anak Wungsu!" Lapor Empu Baradha setibanya dari Pulau Bali.

"Tak apa-apa, Bapak Empu! Terima kasih Bapak Empu sudah melaksanakan apa yang kusuruh. Sekarang bantu aku membagi Kerajaan Ini dengan adil untuk kedua putraku, Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan!"

"Baiklah, Baginda Raja! Bagaimana kalau hamba yang membagi kerajaan Kahuripan ini menjadi dua bagian yang sama besar?"

"Itu lebih baik Bapak Empu! Tapi, bagaimana caranya Bapak Empu membagi kerajaan ini menjadi dua bagian sama besar?"

"Serahkan semuanya pada hamba,Baginda Raja! Hamba yang akan mengaturnya!"

"Baiklah Bapak Empu! Kuserahkan semua persoalan ini kepada Anda!"

Keesokan harinya, Empu Baradha terbang sambil membawa Kendi ( Teko dari tanah liat ) berisi air. Dari angkasa, ia tupahkan air kendi itu sambil terbang melintas persis di tengah-tengah Kerajaan Kahuripan. Ajaibnya, Tanah yang terkena tumpahan air Kendi langsung berubah menjadi sungai. Sungai itu semakin besar dan airnya deras. Sungai itu sekarang bernama Sungai Berantas. 
Kerajaan Kahuripan pun sekarang terbagi menjadi dua bagian. Batasnya adalah ciptaan Empu Baradha. Prabu Airlangga pun menyerahkan dua bagian dari Kerajaan Kahuripan itu kepada Sri Samarawijaya dan Mapanji Garasakan.

"Bagian Kerajaan Kahuripan sebelah timur sungai aku serahkan pada Putraku Mapanji Garasakan! Kerajaan itu aku beri nama Kerajaan Jenggala, Sedangkan bagian barat sungai aku serahkan pada putraku Sri Samarawijaya. Kerajaan itu kuberi nama Kerajaan Panjalu/Kadiri ( sekarang Kota Kediri )." titah Prabu Airlangga.

Kini tentramlah hati Prabu Airlangga. Ia dengan tenang pergi dari Kerajaan Kahuripan ( Sebelum terbelah ) untuk menjadi seorang pertapa. Prabu Airlangga menjadi pertapa di Pucangan. Ia mengganti namanya menjadi Maharesi Gentayu. Ketika meninggal dunia, Jenazah Prabu Airlangga dimakamkan di lereng Gunung Penanggungan sebelah timur.


Demikian sekelumit cerita asal-usul Sungai Brantas.