Tuesday, 22 November 2016

Berjumpa "Bulu Perindu" di Laemanta


Obrolan ringan dengan teman itu topiknya bisa macam-macam, bisa tentang hobby, pengalaman atau hal-hal menarik lainnya. Untuk kalangan cowok biasanya obrolannya tentang petualangan, touring, batu permata atau hal-hal yang lagi trend. Kejadian ini berlangsung saat saya sedang berada di Pulau Celebes, disaat kami sedang asyik membahas tentang batu, tiba-tiba teman saya menyeletuk bahwa dia pernah menjumpai rumput yang konon bentuknya mirip dengan bulu perindu yang banyak fotonya beredar di Internet. Karena ada unsur penasaran yang menghinggapi, akhirnya kami putuskan untuk mengunjungi lokasi yang dimaksud yaitu di sebelah jalan di dusun Peningka, desa Laemanta, Kecamatan Kasimbar, Parigi Moutong, Sulawesi Tengah.


Nah setelah rumput tersebut kami ambil bagian dalamnya dan kami taruh di bidang yang agak panas ternyata rumput tersebut bisa bergerak-gerak. Kata teman saya semakin gerakannya kencang itu berarti bagus. Tidak berhenti disitu saya langsung buka google terus saya cocokkan dengan yang ada di gambar ternyata mirip sekali. 


Dari hasil penelusuran saya, konon bulu perindu berasal dari rumput bujang. Tumbuhan ini banyak tumbuh di Pulau Kalimantan, saya tidak tahu kenapa tumbuhan ini juga ada di Pulau Sulawesi. Oleh sebagian orang rumput ini diyakini mengandung energi pengasihan dengan daya pikat yang sangat tinggi. Oleh sebab itu Bulu Perindu ini sering digunakan sebagai sarana pelet ampuh...hehe.... 


Bulu Perindu yang berasal dari rumput bujang terutama dibagian akarnya sampai saat ini masih menjadi primadona sarana pelet. Karena akar rumput bujang ini bisa bergerak secara magis manakala terkena air atau asap rokok. Bulu Perindu dari akar rumput bujang ini akan menggeliat-geliat atau menari-nari, saling melilit dan merangkul jika didekatkan satu sama lain seperti jiwa-jiwa yang sedang kasmaran....ahay....


Bagi saya semua itu hanyalah sarana saja dan penentu dari semuanya bersumber pada “Sang Khalik”, kalau bahasa Jawa Timur nya adalah tergantung “Sing Ngecet Lombok”. Sekian dulu corat coret siang ini, nanti disambung lagi lain waktu ya.


Monday, 21 November 2016

Bandara Sultan Hasanuddin Makassar


Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, kalau sebelumnya saya hanya melihat melalui TV, kali ini saya melihatnya secara langsung. Bandara yang konon baru diresmikan tahun 2008 ini terlihat sangat cantik dengan perpaduan antara unsur lokal dan modern. Unsur lokal terlihat dari motif-motif kapal pinisi yang menjadi ciri khas masyarakat Bugis.

Sementara unsur modern terlihat dari pemilihan warna yang dominan putih, kemudian ruangan didominasi kaca sehingga sinar matahari bisa masuk dengan bebas membuatnya semakin cerah. 

Untuk bagian interior bandara yang satu ini juga nggak neko-neko. Ruang tunggu penumpang terletak memanjang dengan ruangan yang cukup lega. Pada bagian atapnya terdapat motif kotak-kotak merah-putih. Saya kurang paham maksud motif yang satu ini.


Berbagai kios juga berjejer dengan rapi tidak jauh dari ruang tunggu penumpang. Saya jadi pangling, lagi di Indonesia atau di luar negeri... hehe.... Dari segi desain, menurut saya bandara ini yang paling layak disebut dengan bandara internasional. Secara keseluruhan, Bandara Sultan Hasanuddin KEREEN....


Dibeberapa ruangan saya juga melihat foto-foto obyek wisata menarik di Sulawesi Selatan, seperti Ke’te Kesu dan lain-lain.

Sedikit cerita mengenai Bandara Sultan Hasanuddin, bandara ini biasa dikenal dengan sebutan gerbang Indonesia Timur. Ya walaupun lokasinya tidak benar-benar berada di Indonesia Timur, melainkan di Indonesia Tengah, tapi sebutan tersebut cukup pantas mengingat Bandara Sultan Hasanuddin merupakan hub untuk penerbangan ke Indonesia Timur. 

Bandara Sultan Hasanuddin ini terletak di Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Jadi bandara ini tidak benar-benar berada di wilayah Makassar, melainkan sudah masuk wilayah Maros. Seperti halnya kebanyakan bandara-bandara lain di Indonesia, jarak antara bandara menuju ke kota bisa dibilang cukup jauh.

Mungkin itu sedikit catatan saya saat menginjakkan kaki pertama kali di Sulawesi Selatan.