Saturday, 16 May 2015

Beli Keripik Pisang Rasa Khas Lampung



Mau nulis dari kemarin nggak jadi-jadi. Alhamdulillah akhirnya bisa juga sekarang nulis. Disini saya ingin bercerita tentang sebuah produk makanan khas Lampung, yaitu keripik pisang. Keripik pisang ini tidak biasa seperti yang kita makan, tetapi ada bumbu bubuknya dengan macam-macam rasa.Pertama kali saya mengetahui ada produk makanan seperti ini adalah saat saya berada di kota Bandar Lampung, yaitu sekitar 1 minggu yang lalu. Gara-garanya, saya telpon teman saya yang pernah tugas disini. Saya tanya kira-kira yang khas buat oleh-oleh dari Lampung itu apa ya? teman saya mengatakan kalau di Lampung ada keripik pisang rasa coklat, Nama tokonya adalah toko pusat Oleh-oleh Yen-yen yang berlokasi di Jalan Ikan Kakap No 86 Bandar Lampung. Karena penasaran saya dan beberapa teman langsung kesana.

Di Bandar Lampung sebenarnya ada beberapa merk keripik pisang, diantaranya yaitu merk Suseno, merk Aneka Yen-Yen dan merk Mr. Monkey. Kebetulan yang sempat saya beli yaitu merk Aneka Yen-yen. 
Keripik pisang rasa coklat merk aneka Yen-yen lumayan enak kalau menurut saya, begitu makan sekali langsung ketagihan. Kalau dari segi penampakan, keripik ini mirip dengan keripik pisang yang sering kita temui dengan potongan-potongan membujur (memanjang) tipis tapi tidak terlalu tipis. Lalu keripik-keripik tadi dilumuri dengan bubuk coklat yang menempel pekat pada keripik. Rasa coklatnya pas (melimpah tapi tidak terlalu manis). Di toko aneka yen-yen terdapat lima rasa lain yaitu original, Keju, Susu, Melon dan Mocca. Biar tidak penasaran, saya beli masing-masing rasa tadi. 
So...bagi teman-teman traveller yang singgah di kota Bandar Lampung, mungkin keripik pisang rasa-rasa khas Lampung ini bisa menjadi alternatif untuk barang oleh-oleh yang bisa dibawa pulang.



Tuesday, 12 May 2015

Melintas di Kabupaten Serang

Panas, macet dan polusi mungkin tiga kata itu yang sempat terbesit di benak saya saat melewati jalanan di Kabupaten Serang. Ya....mungkin karena tempat yang saya kunjungi kebetulan di daerah industri tepatnya di perbatasan antara Kabupaten Serang dan Tangerang. 

Karena trending topik yang sering dibicarakan dimana-mana adalah soal batu, tak lupa saya sempatkan ngobrol dengan teman saya tentang batu yang khas di daerah Banten ini. Kenapa Banten ? ya.....karena sejarah Kabupaten Serang sendiri tentunya tidak terlepas dari sejarah Banten pada umumnya, Serang semula merupakan bagian dari wilayah Kerajaan / Kesultanan Banten yang berdiri pada Abad ke XVI dan Pusat  Pemerintahannya terletak di daerah Serang.

Menurut teman saya batu Kalimaya adalah batu yang khas di daerah Banten. Batu ini memiliki kilau warna yang lebih hidup yang lebih dikenal dengan kilau ‘kembang’ dan warnanya tidak menghilang atau luntur meskipun dalam waktu lama. Selain pada kilau dan warna, tekstur pada batu kalimaya hitam asal banten ini juga terlihat lebih kasar dibandingkan jenis opal yang banyak ditemukan di beberapa negara. Bahkan di pasaran internasional opal hitam asal Banten biasanya di hargai lebih mahal dan banyak di buru banyak kolektor mancanegara. Perbedaan itu tentu sudah sangat dikenal bagi kalangan kolektor dan penghobi, mengingat batu permata yang dihasilkan masing-masing negara secara umum akan memiliki perbedaan dan bisa dengan mudah dibedakan secara kasat mata terutama bagi mereka yang sudah paham seluk beluk dunia permata.

Sebagai kenang-kenangan telah berkunjung ke Banten, saya sempat diberi oleh-oleh bahan batu Kalimaya oleh teman saya. Mungkin itu sedikit catatan perjalanan saya saat melintas di Kabupaten Serang.

 

Sunday, 3 May 2015

Menyeberang ke Pulau Tangkil di Lampung



Saat berkunjung ke Lampung kami sempatkan untuk menyeberang ke sebuah pulau yang konon sangat menarik untuk dikunjungi, nama pulau tersebut adalah Pulau Tangkil, adapun lokasi pulau ini tidak jauh dari kota Bandar Lampung. Untuk mendatangi pulau ini, kita dapat naik perahu dari pantai Mutun dengan membayar biaya per orang 15 ribu kalau rombongan, karena kami berangkat berdua maka dikenakan biaya 50 ribu untuk pergi dan pulang. 
Tidak dibutuhkan waktu yang lama untuk berkunjung ke pulau ini, hanya berkisar antara 8-10 menit saja kalau ditempuh dari pantai Mutun.
 
Setelah berlabuh di pulau, kami membayar tiket masuk per orang Rp6.000.
Pulau Tangkil keseluruhan luasnya sekitar 12 hektar. Pemandangannya yang indah dengan pepohonan di bagian belakang masih rimbun. Lokasi wisata di pulau ini baru memanfaatkan lahannya sekitar 3 hektar. Ditandai dengan gapura dari susunan batu yang di belakangnya berderet pondokan.
 
 
Suasana yang asri dan cukup hening akan kita rasakan di pulau ini. Air laut yang bersih sehingga cocok untuk berenang, bahkan karena saking jernihnya kita dapat melihat ikan-ikan yang berenang di dekat pantai.
 
 
 

 
 Mungkin itu sedikit catatan saya saat berkunjung di Pulau Tangkil Lampung.