Wednesday, 25 February 2015

Batu Balai di Bangka Barat



Serasa tidak ada habisnya kalau kita membahas mengenai Negeri Laskar pelangi ini, selain keindahan pantainya yang luar biasa juga masih banyak lagi hal-hal yang menarik untuk diulas. Ketika saya menyusuri jalan menuju ke arah Gunung Menumbing, disana saya dapati sebuah batu yang sangat menarik menurut saya. Batu ini merupakan salah satu keajaiban alam di Bangka Barat, tepatnya di Kampung Balai, Kelurahan Tanjung, Muntok. Batu besar itu bertumpuk dua dan bagian paling atasnya menyerupai buritan sebuah perahu. Batu ini disebut Batu Balai.
Layaknya perahu layar, bagian pinggir batu yang menyerupai buritan tersebut membekas laksana membentuk aluir-alur atau dikenal dengan istilah Polka (tempat pengikat terpal) dalam dunia perkapalan. Sebuah pohon besar tumbuh tepat di antara dua buah batu besar yang tersusun tersebut. Soal berapa umurnya pohon tersebut belum ada informasi yang dapat menjelaskannya. 

Ada yang menarik dari batu ini, ketika dipukul dengan  tangan akan terdengar suara pong-pong sementara dari atas batu terlihat bagian mirip seperti peralatan lemari. Sementara pohon yang berdiri di atas batu dalam cerita yang dikenal masyarakat sebagai tiang perahu layar.

Konon keberadaan Batu Balai itu tak terlepas dari cerita rakyat yang mengisahkan tentang anak yang durhaka kepada ibunya. Yup, kisah tentang anak yang durhaka kepada ibunya sepertinya sangat familiar alias tidak asing lagi di telinga kita. Tentu kita tahu Malin kundang bukan?

Cerita rakyat dibalik Batu Balai pun hampir sama. Menurut beberapa sumber yang sempat kita baca, dulunya batu itu dilatarbelakangi oleh kehidupan sebuah keluarga dimana ada anak yang bernama Dempu awang bersikap durhaka kepada ibunya.

Singkat kata, Dempu Awang pergi merantau untuk kehidupan yang lebih baik, sebagai seoarang ibu pastilah tak ada lagi perbuatan yang mesti dilakukan selain mendoakannya agar sukses di perantauan. Nah, seiring berjalannya waktu ternyata sukses anak itu di perantauan dan punya istri yang cantik jelita. Suatu waktu istrinya ingin melihat menjenguk ibunya Dempu dan Dempu pun mengiyakan. Mereka pun lantas angkat jangkar dan berlayar.

Sesampainya di kampung dan bertemu dengan ibunya Dempu, apa yang terjadi? Tak seperti yang diharapkan, Dempu malu dan tidak mengakui ibu yang berada di hadapannya. Hancurlah berkeping-keping hati Ibunya terlebih saat Dempu mendorong ibunya sampai terjatuh.

Sumpah serapah keluar dari mulut ibunya dan doanya  benar-benar dikabulkan oleh yang punya jagat raya. Saat Dempu Awang hendak berlayar meninggalkan pelabuhan Mentok, tiba-tiba saja langit menjadi mendung. Tak lama kemudian turun hujan deras disertai angin topan dan petir. Tiba-tiba gelombang laut setinggi gunung menghantam keras kapal Dempu Awang. Kapal  oleng  kapten, huehehehehe, benar saja kapalnya itu terbelah menjadi dua, lalu karam ke dasar laut.

Setelah cuaca kembali cerah, tiba-tiba ada sebuah batu besar di tempat kapal Dempu Awang karam. Batu yang menyerupai kapal besar itu merupakan penjelmaan Dempu Awang dan kapalnya, sedangkan istrinya menjelma menjadi kera putih. Oleh masyarakat setempat batu itu diberi nama sebagai Batu Balai karena dulunya di samping batu itu terdapat sebuah balai yang biasa dijadikan sebagai tempat untuk bermusyawarah.

Monday, 23 February 2015

Museum Timah Indonesia di Muntok



Museum Timah Indonesia adalah museum teknologi pertimahan yang saat ini dikelola oleh PT Tambang Timah (Persero) Tbk, yang sebetulnya sudah berdiri sejak tahun 1958. Bertujuan mencatat sejarah pertimahan di Kepulauan Bangka Belitung, sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat perihal pertambangan timah. 
Museum ini menempati sebuah gedung bersejarah yang awalnya adalah rumah dinas Hoofdt Administrateur Banka Tin Winning (BTW). Dalam museum ini, ada banyak hal yang bisa kita pelajari, utamanya perihal sejarah pertambangan timah di Indonesia, terlebih tambang timah di Pulau Bangka dan Pulau Belitung. 
Disini kita juga bisa mempelajari sejarah eksplorasi bijih timah dengan pemboran. Pemboran pada mulanya dilakukan dengan alat bor tusuk yang diperkenalkan oleh pendatang China di awal abad 18. Orang China menamakannya dengan sebutan Ciam yang berarti ujung runcing. Sedangkan orang Belanda menamakannya dengan sebutan Chinese Stick. Ciam adalah sebuah tongkat yang terbuat dari tembaga, diujungnya terdapat takuk untuk mengambil contoh lapisan tana. Contoh bagaimana alat bernama Ciam ini bisa kita lihat di Museum Timah Indonesia.
Sejak tahun 1885, bor Bangka mulai digunakan para penambang, diciptakan oleh JE Akkeringa, seorang ahli Geologi BTW. Peralatan ini berguna untuk pemboran lapisan alluvial dengan kedalaman kurang dari 40 meter. Hampir seluruh eksplorasi mineral berat dari lapisan tanah sekunder pada tahap tertentu menggunakan bor Bangka. Namun, memasuki abad 19, mulai ditemukan lapisan alluvial dalam, di mana bor Bangka sudah tidak mampu lagi menembusnya, sehingga diciptakanlah berbagai modifikasi alat bor yang berbasis bor Bangka. 
Disana juga ada berbagai foto armada penambangan timah laut di Indonesia.



Apakah cuma sebatas itu isi museum ini? Masih ada lagi ternyata, yakni perihal manuskrip awal penulisan sejarah Bangka. Sejarah Bangka ditulis pertama kali oleh Haji Idris, seorang guru di Muntok, Bangka Barat, pada tahun 1861 silam. Catatan sejarah ini dimutakhirkan oleh Abang Arifin Tumenggung Kertanegara I pada tahun 1879, dan Abang Muhammad Ali Tumenggung Kertanegara II pada tahun 1879. Dilanjutkan oleh Raden Achmad dan Abang Abdul Jajal pada tahun 1925. 

Nah, sungguh banyak bukan hal yang dapat kita pelajari di Museum Timah Indonesia di Pulau Bangka ini? Seraya mempelajarinya, tentu saja secara langsung kita bisa melihat-lihat benda yang dijelaskan tersebut diatas. Semuanya dikoleksi di Museum Timah Indonesia yang terletak di Jalan Jendral Sudirman Muntok, Bangka Barat. Semua itu bisa kita pejari gratis, sebab pengelola museum tidak memungut biaya sepersen pun dari pengunjung yang datang. 


 



Saturday, 21 February 2015

Mercusuar Tanjung Kalian di Kabupaten Bangka Barat Propinsi Bangka Belitung



Kota tua Muntok terletak di ujung sebelah barat Pulau Bangka. Selain menyimpan sejarah, kota ini juga menyimpan eksotis alam yang tidak kalah dengan kabupaten-kabupaten lain di Pulau Bangka. Perpaduan alam semenanjung Bangka dan peninggalan sejarah era kesultanan dari Sumatera Selatan Palembang hingga perebutan kemerdekaan RI, menjadi salah satu daya tarik tersendiri dari Kota Muntok ini.
Di sini tersebar sejumlah obyek wisata, diantaranya Mercusuar Tanjung Kalian. Mercusuar yang berdiri tegar dan kokoh di Tanjung Kalian adalah sebuah sarana penyelamat lalu lintas kapal yang di bangun oleh Belanda pada tahun 1862. Mercusuar ini memiliki ketinggian lebih kurang 65 m dan terdiri dari 16 pantai.
Dari puncak menara, keindahan se keliling dapat terlihat. Ke arah barat, tampak Pantai Tanjung Kalian dengan pasir yang putih sepanjang lebih kurang 5 km. Ke sebelah timur, tampak pelabuhan tua kota Muntok. Konon di waktu malam, sinar lampu mercusuar ini dapat terlihat dengan jelas dengan radius 5 km dari arah laut, sebagai markas jalur kapal-kapal yang melintas.
Kawasan wisata mercusuar tersebut berjarak 5-6 km dari pusat Ibu Kota Kabupaten Bangka Barat di Muntok.  

Berikut adalah beberapa gambar di sekitar Menara Suar yang sempat saya abadikan :